Superman (2025) karya James Gunn belum lama tayang, tapi sudah memicu percakapan yang melampaui ulasan film biasa. Di berbagai forum dan media sosial, sebagian penonton membaca konflik fiktif antara Boravia dan Jarhanpur bukan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai alegori yang sangat sadar diri tentang dinamika kekuasaan global yang sedang berlangsung hari ini.James Gunn tidak pernah secara resmi mengonfirmasi interpretasi itu. Tapi dalam tradisi analisis budaya, intensi sutradara bukan satu-satunya hal yang relevan. Yang tidak kalah penting adalah apa yang dilihat penonton, dan mengapa mereka melihatnya di sana.

Boravia, Jarhanpur, dan Bayangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Dalam film, Boravia digambarkan sebagai negara dengan militer superior yang didukung Amerika Serikat, melakukan invasi terhadap Jarhanpur yang jauh lebih lemah secara persenjataan. Warga sipil Jarhanpur menjadi korban serangan udara dan operasi darat yang tidak berimbang. Propaganda Boravia membenarkan invasinya dengan retorika keamanan dan pembebasan.
Bagi sebagian penonton, paralel itu terlalu spesifik untuk diabaikan. Kekuatan militer superior yang didukung AS, populasi sipil yang tidak berdaya, narasi resmi yang mengemas agresi sebagai operasi keamanan, elemen-elemen itu membentuk pola yang terasa sangat familiar bagi siapapun yang mengikuti konflik Gaza dalam dua tahun terakhir.
Adegan warga Jarhanpur mengibarkan bendera setelah diselamatkan Superman dibaca oleh sebagian penonton sebagai resonansi visual dengan gambar-gambar yang beredar dari Gaza — bukan karena Gunn menyatakannya, tapi karena imaji itu sudah terlanjur hidup dalam benak kolektif penonton global yang terpapar pemberitaan konflik tersebut.
Luthor dan Kompleks Industri-Militer
Lex Luthor dalam versi ini bukan penjahat yang ingin menghancurkan dunia demi kejahatan itu sendiri. Ia adalah CEO yang berkolaborasi dengan Boravia untuk memasok senjata dan teknologi militer — dan yang bereaksi dengan kemarahan ketika Superman mengganggu operasi militer Boravia, bukan karena alasan ideologis, melainkan karena itu mengganggu bisnisnya.
Pembacaan kritis terhadap karakter ini tidak membutuhkan banyak imajinasi. Industri senjata yang diuntungkan oleh eskalasi konflik, korporasi yang memiliki kepentingan finansial dalam keberlangsungan perang, dan hubungan antara modal besar dengan kebijakan luar negeri, ini bukan tema yang asing dalam diskusi tentang konflik Timur Tengah maupun konflik bersenjata lainnya di dunia.
Beberapa penonton juga mengasosiasikan karakter Luthor dengan figur-figur kontemporer yang menggabungkan kekuatan teknologi, kapital besar, dan ambisi politik dalam satu paket. Sekali lagi, Gunn tidak menyatakannya, tapi film yang cukup cerdas sering kali membiarkan penonton menemukan koneksi itu sendiri.
Dilema Superman sebagai Cermin Komunitas Internasional
Bagian yang paling menarik dari pembacaan alegoris ini adalah dilema Superman sendiri. Ia menghadapi konflik yang secara teknis berada di luar yurisdiksinya. Intervensinya bisa dibenarkan secara moral tapi dipertanyakan secara hukum internasional. Ia memilih bertindak, tapi film tidak merayakan pilihan itu tanpa ambiguitas.
Dalam konteks konflik Gaza, pembacaan itu menjadi sangat relevan: komunitas internasional yang memiliki kemampuan untuk bertindak tapi terhambat oleh kalkulasi geopolitik, aliansi strategis, dan hak veto di Dewan Keamanan PBB. "Legalitas" dan "moralitas" yang menunjuk ke arah berbeda, dan institusi yang dirancang untuk melindungi justru sering terlumpuh oleh kepentingan yang sama yang mendorong konflik.
Alegori sebagai Bahasa yang Tidak Bisa Dibreidel

Yang membuat pembacaan seperti ini sah secara analitis adalah preseden panjang dalam sejarah seni dan sastra. Alegori politik bukan gimmick, ia adalah cara seniman berbicara tentang sesuatu yang terlalu panas atau terlalu rumit untuk disampaikan secara langsung, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk menemukan maknanya sendiri.
Parasite tidak pernah secara eksplisit menyebut sistem kapitalisme Korea Selatan. Attack on Titan tidak pernah mengklaim sedang menggambarkan konflik geopolitik spesifik. Tapi pembacaan alegoris terhadap keduanya menghasilkan analisis yang jauh lebih kaya dari sekadar ringkasan plot.
Superman (2025), disengaja atau tidak, hadir di momen ketika penonton global membawa beban visual dan emosional yang sangat spesifik ke dalam bioskop. Bahwa sebagian dari mereka pulang dengan membaca Boravia dan Jarhanpur sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar negara fiktif, itu bukan kesalahan baca. Itu adalah bukti bahwa film yang baik bekerja justru karena ia tidak menutup kemungkinan itu.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











