Bagaimana Kompleksitas Ikatan Manusia Tergambar dalam series "The Last Of Us"

Diterbtikan Pada

Bagaimana Kompleksitas Ikatan Manusia Tergambar dalam series "The Last Of Us"

Diterbtikan Pada

“Kalau kau gigit, aku tembak kepalamu.”

Kalimat dingin itu keluar dari mulut Joel di awal perjalanan panjangnya bersama Ellie. Dunia sudah hancur karena infeksi Cordyceps yang mengubah manusia menjadi monster. Tidak ada lagi pemerintahan, tidak ada hukum, hanya kelompok-kelompok survivor yang saling bunuh demi makanan, obat, atau sekadar bertahan satu hari lagi.

Di tengah reruntuhan kota yang ditumbuhi jamur, Joel — seorang pria yang sudah kehilangan segalanya — bertemu Ellie, gadis remaja kebal terhadap infeksi. Tugasnya sederhana: antar Ellie ke Fireflies. Tapi perjalanan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam: pertanyaan tentang apa yang masih tersisa dari kemanusiaan ketika segala norma moral runtuh.

Moralitas yang Menjadi Abu-abu di Ujung Survival

The Last of Us bukan cerita pahlawan yang menyelamatkan dunia. Ini cerita tentang manusia biasa yang dipaksa membuat pilihan mengerikan demi bertahan hidup.

Joel pernah membunuh tanpa ragu. Ia pernah meninggalkan orang yang memohon tolong. Ia pernah berbohong, mencuri, dan melakukan hal-hal yang dulu ia anggap tidak termaafkan. Ellie juga belajar cepat: cara membunuh dengan pisau, cara berbohong untuk selamat, cara mengeraskan hati supaya tidak hancur setiap kali melihat kematian.

Di dunia pasca-apokaliptik, etika survival muncul sebagai pertanyaan yang sangat keras:

  • Bolehkah membunuh satu orang untuk menyelamatkan banyak orang?

  • Bolehkah mengorbankan anak orang lain demi keselamatan kelompokmu?

  • Apakah kebohongan besar dibenarkan kalau itu melindungi orang yang kamu sayangi?

Game dan serial ini tidak memberikan jawaban hitam-putih. Ia justru memperlihatkan bahwa di kondisi ekstrem, moralitas menjadi sangat fleksibel.

Etika Survival: Antara Utilitarianisme dan Deontologi

Dalam filsafat etika, ada dua aliran besar yang sering bertabrakan di situasi seperti ini:

  • Utilitarianisme (Jeremy Bentham & John Stuart Mill): Tindakan benar kalau menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Joel beberapa kali mengambil jalan ini — membunuh kelompok bandit demi keselamatan dirinya dan Ellie, atau melakukan apa pun demi melindungi “keluarga” barunya.

  • Deontologi (Immanuel Kant): Ada aturan moral mutlak yang tidak boleh dilanggar, meski konsekuensinya buruk. “Jangan membunuh orang tak berdosa” adalah contohnya. Beberapa karakter di The Last of Us (seperti Tess atau Henry) masih berusaha mempertahankan prinsip ini, meski sering berakhir tragis.

The Last of Us menunjukkan bahwa di dunia nyata (atau dunia pasca-apokaliptik), manusia jarang murni satu aliran. Kita campur aduk. Kadang kita utilitarian ketika lapar dan takut. Kadang kita deontologis ketika masih punya ruang untuk bernapas.

Yang paling menyentuh adalah bagaimana ikatan manusia menjadi penyeimbang moralitas itu. Joel yang awalnya dingin dan egois perlahan berubah karena Ellie. Ellie yang naif belajar kekejaman, tapi juga belajar kasih sayang. Hubungan mereka menunjukkan bahwa ikatan emosional sering menjadi alasan utama manusia masih memilih untuk tidak sepenuhnya kehilangan kemanusiaannya.

Psikologi Hubungan Manusia di Tengah Kehancuran

Psikolog evolusi bilang bahwa manusia adalah makhluk sosial. Di situasi survival ekstrem, otak kita cenderung membentuk ikatan kuat dengan sedikit orang (tribe kecil) untuk meningkatkan peluang bertahan. Itulah yang terjadi pada Joel dan Ellie — mereka menjadi “found family”.

Ikatan ini punya dua sisi:

  • Sisi positif: memberi alasan untuk terus hidup, mengurangi kesepian, dan mendorong pengorbanan diri.

  • Sisi gelap: bisa membuat kita buta. Joel rela membunuh seluruh Fireflies dan berbohong besar kepada Ellie hanya karena takut kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa hidup lagi.

Ini mirip dengan fenomena “in-group bias” dalam psikologi: kita cenderung lebih memaafkan dan melindungi “kelompok kita” meski harus melanggar norma terhadap “kelompok luar”.

Relevansi untuk Kehidupan Kita di Indonesia

Kita tidak hidup di dunia zombie Cordyceps, tapi banyak situasi sehari-hari yang memaksa kita menghadapi dilema survival ethics dalam skala kecil:

  • Orang tua yang korupsi kecil demi biaya sekolah anaknya.

  • Karyawan yang memalsukan laporan demi mempertahankan pekerjaan dan keluarga.

  • Remaja yang ikut tawuran atau bergabung geng karena ingin “dilindungi” oleh kelompoknya.

  • Di masa pandemi dulu, banyak yang menimbun masker atau obat karena takut keluarganya kekurangan.

Di saat tekanan ekonomi, kompetisi kerja, atau krisis pribadi, norma moral sering menjadi abu-abu. Kita beralasan “ini demi keluarga” atau “ini demi bertahan”.

The Last of Us mengingatkan kita bahwa batas moral memang bisa bergeser di bawah tekanan, tapi ikatan manusia yang sehat bisa menjadi jangkar yang menahan kita agar tidak sepenuhnya hilang arah.

Hikmah yang Bisa Kita Ambil

Di tengah semua pilihan sulit yang ditunjukkan Joel dan Ellie, ada beberapa pelajaran yang sangat manusiawi:

Manusia tetap butuh hubungan, bahkan di saat paling gelap. Ikatan yang tulus (bukan hanya transaksional) sering menjadi kekuatan terbesar untuk mempertahankan moralitas.

Tidak ada pilihan yang sempurna dalam situasi ekstrem. Yang penting adalah kesadaran: kita harus tetap jujur pada diri sendiri tentang alasan di balik pilihan kita. Kalau terus-menerus beralasan “demi survival”, lama-lama kita bisa kehilangan diri sendiri.

Pengorbanan demi orang yang kita sayangi itu mulia, tapi jangan sampai pengorbanan itu justru merusak orang tersebut di kemudian hari — seperti kebohongan Joel yang akhirnya menyakiti Ellie.

Pada akhirnya, The Last of Us bukan cerita tentang siapa yang selamat. Ini cerita tentang apa yang tersisa dari kita ketika segala kemewahan peradaban hilang. Apakah kita masih bisa mencintai? Apakah kita masih bisa memercayai? Apakah kita masih bisa memilih untuk tidak menjadi monster sepenuhnya?

Joel dan Ellie mengajarkan bahwa survival yang paling sulit bukan melawan jamur atau bandit di luar sana. Survival yang paling sulit adalah mempertahankan kemanusiaan di dalam diri kita sendiri.

Di dunia yang semakin keras dan kompetitif, mungkin kita tidak perlu menunggu kiamat zombie baru sadar betapa berharganya ikatan antarmanusia.

Karena di saat segalanya runtuh, yang tersisa hanyalah orang-orang yang kita pilih untuk dilindungi — dan pilihan moral yang kita buat demi mereka.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023