Mengenang Suara-Suara yang Dibungkam pada era orde baru lewat "laut bercerita"

Diterbtikan Pada

Mengenang Suara-Suara yang Dibungkam pada era orde baru lewat "laut bercerita"

Diterbtikan Pada

JakartaLaut Bercerita karya Leila S. Chudori bukan novel yang nyaman untuk dibaca. Ia tidak dirancang untuk itu. Novel ini adalah monumen literatur untuk para aktivis yang hilang — mereka yang tidak pernah pulang, yang namanya tidak tercatat dalam berita resmi, yang keberadaannya dihapus oleh mesin kekuasaan yang rapi dan sistematis.

Di tengah berbagai tekanan terhadap ruang demokrasi yang kembali terasa belakangan ini, novel yang pertama terbit pada 2017 ini mendapatkan relevansinya kembali — bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai peringatan.

Kehidupan di Bawah Rezim yang Tidak Toleran pada Pertanyaan

Generasi yang Merindukan Demokrasi

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indonesia yang lebih demokratis. Mereka adalah generasi yang lahir dan besar di bawah otoritarianisme, namun memimpikan negeri yang berbeda—negeri di mana kebebasan berpendapat dihormati, dan kebenaran tidak dimonopoli penguasa.

Para mahasiswa aktivis ini tergabung dalam organisasi, menggelar aksi protes, dan menyebarkan buku-buku yang dianggap subversif oleh rezim. Mereka membaca karya-karya tentang Marxisme, buku Ernesto Che Guevara, dan literatur politik lainnya yang dilarang—bukan karena mereka ingin memberontak, tetapi karena mereka haus akan pengetahuan dan perspektif alternatif. Mereka menyadari bahwa pendidikan formal di bawah rezim Orde Baru telah membatasi pemikiran kritis, dan mereka mencari kebenaran di luar kurikulum resmi.

Tokoh utama novel, Biru Laut, adalah representasi dari ribuan aktivis muda yang berani menantang rezim. Mereka tahu risikonya: penangkapan, penyiksaan, bahkan kematian. Namun, mereka tetap maju, didorong oleh keyakinan bahwa Indonesia layak mendapat masa depan yang lebih baik.


Generasi yang Memilih Tahu

Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah mahasiswa era 1990-an yang lahir dan besar di bawah otoritarianisme, namun menolak untuk menerima begitu saja narasi tunggal yang disodorkan rezim. Mereka membaca Marxisme, Che Guevara, dan berbagai literatur yang masuk daftar larangan — bukan karena ingin menghancurkan negara, melainkan karena mereka haus pada perspektif yang tidak diajarkan di ruang kelas resmi.

Pendidikan formal di bawah Orde Baru dirancang untuk menghasilkan kepatuhan, bukan pemikiran kritis. Kurikulum yang seragam, buku teks yang dikontrol, guru yang tidak bisa berbicara bebas — semua itu menciptakan generasi yang harus mencari pengetahuan secara sembunyi-sembunyi jika ingin melampaui batas yang ditetapkan.

Tokoh utama novel, Biru Laut, adalah representasi dari ribuan anak muda yang memilih jalan itu. Mereka tahu risikonya. Penangkapan, interogasi, penyiksaan, penghilangan — bukan ancaman abstrak, melainkan sesuatu yang sudah terjadi pada orang-orang yang mereka kenal. Tapi mereka tetap maju, dengan keyakinan sederhana namun keras kepala: bahwa Indonesia layak mendapat sesuatu yang lebih baik dari ini.

Novel ini tidak meromantisasi pilihan itu. Leila menggambarkan dengan jujur bagaimana idealisme berbenturan dengan kenyataan yang tidak memberi ampun — pengkhianatan dari orang-orang terdekat, tubuh yang tidak tahan terhadap tekanan fisik, momen-momen di mana keyakinan goyah. Keberanian dalam novel ini bukan keberanian yang bersih dan heroik; ia kotor, menyakitkan, dan penuh keraguan.

Mengapa Novel Ini Masih Perlu Dibaca Sekarang

Laut Bercerita sering dikategorikan sebagai "novel sejarah" — dan kategorisasi itu, tanpa disadari, bisa menjadi cara untuk menjinakkannya. Jika ia hanya tentang masa lalu, maka ia cukup dibaca sebagai dokumen, bukan sebagai cermin.

Tapi novel ini menolak untuk hanya menjadi arsip. Mekanisme yang digambarkan Leila — pembungkaman bertahap, normalisasi represi, penghapusan ingatan kolektif — bukan mekanisme yang eksklusif milik satu rezim atau satu era. Ia adalah pola yang bisa muncul dalam berbagai bentuk, dalam berbagai skala, kapanpun kondisi memungkinkan.

Generasi muda Indonesia hari ini sebagian besar tidak punya ingatan langsung tentang Orde Baru. Yang mereka tahu tentang periode itu sering kali tidak lebih dari beberapa halaman di buku sejarah sekolah — versi yang sudah disaring dan diperhalus. Laut Bercerita mengisi kekosongan itu dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh buku teks: ia membuat pembaca merasakan, bukan sekadar mengetahui.

Dan itu, justru, yang membuat novel ini berbahaya bagi siapapun yang ingin masa lalu tetap terkubur — sekaligus sangat penting bagi siapapun yang ingin memastikan sejarah itu tidak terulang.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023