Film On the Movement of the Earth (2023) karya sutradara Polandia Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis biasa. Ia adalah alegori yang menusuk tentang bagaimana otoritas politik dan agama bersekutu untuk membungkam suara kebenaran ilmiah. Berlatar Polandia abad ke-17, film ini mengisahkan perjuangan astronom Rafal yang dikejar Inkuisisi Gereja Katolik karena mendukung teori heliosentris—bahwa Bumi mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. Melalui sinematografi gelap, atmosfer menegangkan, dan narasi yang mencekam, Kruhlik membeberkan mekanisme manipulasi kesadaran massa serta penundukan ilmu pengetahuan di bawah bayang-bayang kekuasaan.
Pertarungan antara Sains dan Dogma

Teori heliosentris Nicolaus Copernicus (dalam De revolutionibus orbium coelestium, 1543) mengguncang fondasi otoritas Gereja Katolik pada abad ke-16 dan ke-17. Gereja, yang saat itu menguasai kekuatan politik dan spiritual, merasa terancam karena teori ini bertentangan dengan penafsiran harfiah Alkitab (misalnya, Yosua 10:12-13 yang menyiratkan Matahari "berhenti"). Ancaman bukan hanya teologis, tapi juga politik: jika Gereja salah dalam hal fundamental seperti kosmologi, otoritasnya dalam segala bidang bisa runtuh.
Gereja mengendalikan akses pengetahuan melalui:
Index Librorum Prohibitorum (Daftar Buku Terlarang), yang memasukkan karya Copernicus dan Galileo.
Monopoli pendidikan dan informasi, sehingga hanya "kebenaran resmi" yang tersebar.
Film Kruhlik menggambarkan Inkuisisi menggunakan taktik teror: penyiksaan, pengucilan sosial, hingga hukuman mati (seperti Giordano Bruno pada 1600). Rakyat yang takut hukuman duniawi dan neraka menjadi mudah dikendalikan, menerima narasi resmi tanpa pertanyaan.
Teori ilmiah dibingkai sebagai ancaman terhadap iman dan stabilitas sosial, bukan pencarian kebenaran, melainkan bahaya bagi jiwa dan tatanan masyarakat. Penindasan pun disamarkan sebagai "perlindungan kebaikan bersama".
Film juga menyoroti kooptasi intelektual: beberapa cendekiawan yang seharusnya membela sains justru memilih diam atau mendukung status quo demi posisi, keamanan, atau karir, fenomena yang masih relevan hingga kini.
Relevansi dengan Konteks Kontemporer

Pola pembungkaman ini bukan relik masa lalu. Di era modern, mekanisme serupa masih hidup, termasuk di Indonesia:
Pembatasan kebebasan akademik: Peneliti atau dosen sering ditekan jika temuan mereka "mengganggu stabilitas" atau bertentangan dengan nilai resmi/politik/identitas tertentu.
Disinformasi dan propaganda: Media dikendalikan atau dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi menyesatkan, mengalihkan perhatian dari isu substantif seperti korupsi atau ketimpangan.
Kriminalisasi suara kritis: Aktivis, jurnalis, ilmuwan, atau warga yang vokal kerap dijerat UU ITE, tuduhan makar, atau label "anti-pancasila/anti-agama".
Politik identitas: Isu agama, etnis, atau moral digunakan untuk memecah belah masyarakat dan mengaburkan ketidakadilan struktural.
Di tengah banjir informasi digital, tantangan justru semakin berat: disinformasi mempersulit membedakan fakta dari opini. "Tuan-tuan baru" seperti korporasi raksasa, rezim otoriter, atau kelompok fundamentalis memanfaatkan algoritma dan media untuk memanipulasi opini publik, mirip Inkuisisi yang mengontrol narasi.
Namun, seperti gagasan Copernicus yang bertahan secara diam-diam hingga terbukti benar, kebenaran sering dimulai dari minoritas berani. Film ini mengingatkan: kemajuan umat manusia selalu lahir dari keberanian mengatakan yang sesungguhnya, meski suara itu dibungkam.
Kesimpulan: Menjaga Api Kebebasan Berpikir
On the Movement of the Earth adalah cermin tajam bagi kita semua. Selama kekuasaan takut pada kebenaran, mekanisme pembungkaman akan terus ada, baik melalui dogma agama, ideologi negara, atau kepentingan ekonomi. Tugas kita adalah menjaga ruang dialog terbuka, melindungi kebebasan berpikir, dan mendukung suara kritis.
Belajar dari sejarah: penindasan terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah abadi. Kebenaran, meski lambat, pada akhirnya menang. Film Bartosz Kruhlik ini bukan hanya tentang masa lalu Polandia abad ke-17, tapi peringatan bagi Indonesia dan dunia hari ini: jangan biarkan "Inkuisisi modern" memadamkan cahaya pengetahuan.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel










