Bagaimana "Barbie" Mengeksplorasi Pertanyaan Siapa yang Memutuskan Perempuan Harus Jadi Apa?

Diterbtikan Pada

Bagaimana "Barbie" Mengeksplorasi Pertanyaan Siapa yang Memutuskan Perempuan Harus Jadi Apa?

Diterbtikan Pada

Ada monolog di film Barbie yang diam-diam menghantam lebih keras dari semua adegan komedinya. America Ferrera, yang memerankan Gloria, berbicara tanpa henti selama hampir dua menit tentang apa artinya menjadi perempuan di dunia nyata.

Harus cantik tapi tidak terlalu berusaha. Harus cerdas tapi tidak mengancam. Harus ambisius tapi tetap menyenangkan. Harus punya pendapat tapi tidak terlalu keras. Harus menjadi segalanya — dan ketika gagal di salah satunya, itu kesalahannya sendiri.

Penonton di bioskop tertawa — tapi tawa yang aneh. Bukan karena lucu, tapi karena terlalu familiar untuk tidak tertawa. Karena kalau tidak tertawa, mungkin yang keluar adalah sesuatu yang lain.

Di sinilah film Barbie berhenti menjadi hiburan dan mulai menjadi pertanyaan sosiologis yang sangat serius: dari mana semua ekspektasi itu datang, siapa yang menciptakannya, dan kenapa ia terasa begitu alami padahal ia adalah konstruksi?

Konstruksi Sosial — Sesuatu yang Terasa Alami tapi Tidak Lahir Alami

Sosiolog Peter Berger dan Thomas Luckmann di tahun 1966 menulis sebuah buku dengan argumen yang sederhana tapi mengubah cara kita memahami realitas sosial: sebagian besar dari apa yang kita anggap "alami" tentang dunia sebenarnya adalah konstruksi — hasil dari kesepakatan sosial yang terulang begitu lama sampai terasa seperti kebenaran bawaan.

Ini berlaku untuk banyak hal. Tapi berlaku paling kuat — dan paling berdampak — untuk gender.

Judith Butler, filsuf dan teoretisi gender, membawa ini lebih jauh dengan konsep performativity. Gender, menurutnya, bukan sesuatu yang kamu miliki — ia sesuatu yang kamu lakukan, berulang-ulang, dalam respons terhadap norma yang sudah ada sebelum kamu lahir. Cara perempuan diharapkan duduk, berbicara, berpakaian, bereaksi, mengekspresikan ambisi atau emosi — semua itu bukan ekspresi dari "kewanitaan alami". Itu adalah pertunjukan yang dipelajari, dikuatkan oleh pengulangan dan sanksi sosial ketika pertunjukannya melenceng.

"Gender adalah tindakan yang terus-menerus, bukan kondisi yang statis. Kita tidak memiliki gender — kita melakukan gender." — Judith Butler

Barbieland di awal film adalah versi parodi dari konstruksi ini yang berjalan ke arah sebaliknya. Di sana perempuan punya segalanya — kekuasaan, posisi, kepercayaan diri — dan laki-laki (Ken) adalah aksesoris. Tapi Barbieland juga bukan utopia, karena ia tetap sistem yang kaku. Bedanya hanya siapa yang diuntungkan oleh kekakuannya.

Boneka Pink dan Paradoks Inspirasi

Barbie sebagai produk punya sejarah yang penuh kontradiksi internal yang menarik untuk ditelaah.

Ketika Ruth Handler menciptakan Barbie di 1959, idenya adalah revolusioner untuk zamannya: sebuah boneka yang bukan bayi, yang punya karier, yang punya kehidupan independen. Di era ketika mainan anak perempuan hampir semuanya berputar di sekitar peran domestik — boneka bayi, peralatan masak kecil, perangkat rumah tangga — Barbie adalah pernyataan bahwa perempuan bisa menjadi apa saja.

Tapi dalam perjalanannya, produk itu juga membawa pesan yang berlawanan: tubuh yang proporsinya mustahil secara biologis, penampilan yang selalu sempurna tanpa celah, gaya hidup glamor yang tidak pernah berantakan. Aspirasi dan standar tidak realistis dikemas dalam satu kotak pink yang sama.

Peneliti Carol Gilligan dan sejumlah psikolog perkembangan menemukan bahwa anak perempuan mulai menginternalisasi standar penampilan jauh lebih awal dari yang kita kira — dan mainan serta media adalah salah satu kanal utamanya. Ini bukan berarti Barbie adalah penyebab tunggal dari body image issues. Tapi ia adalah bagian dari ekosistem pesan yang sangat konsisten dan sangat awal menjangkau anak perempuan.

Film Barbie sadar akan kontradiksi ini dan tidak mencoba menyelesaikannya dengan mudah. Ia menampilkan Mattel — perusahaan yang membuat Barbie — sebagai institusi yang komikal dan sedikit jahat, tapi juga tidak berpura-pura bahwa solusinya sesederhana "buat Barbie lebih realistis".

The Real World dan Beban Ganda

Ketika Barbie dan Ken masuk ke dunia nyata, yang terjadi bukan sekadar culture shock komedi. Ada sesuatu yang lebih gelap di bawahnya.

Ken menemukan patriarki — dan ia menerimanya dengan antusias bukan karena ia jahat, tapi karena sistem itu menawarkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: makna dan identitas yang tidak bergantung pada Barbie. Ini kritik yang sangat tajam: patriarki tidak bertahan karena laki-laki secara universal memilih untuk menindas. Ia bertahan sebagian karena ia menawarkan struktur identitas yang terasa menenangkan — bahkan bagi mereka yang seharusnya mempertanyakannya.

Sementara itu Barbie — yang di Barbieland adalah pusat segalanya — tiba-tiba merasakan untuk pertama kalinya apa artinya dievaluasi secara konstan, dinilai berdasarkan penampilan, dan menghadapi standar yang tidak pernah bisa dipenuhi sepenuhnya.

Sosiolog Arlie Hochschild punya konsep yang relevan di sini: double shift atau beban ganda. Perempuan yang bekerja di luar rumah tidak pulang ke rumah untuk istirahat — mereka pulang untuk mengerjakan shift kedua: urusan domestik, pengasuhan, pengelolaan emosi keluarga. Dan di atas semua itu ada emotional labor — kerja emosional yang tidak terlihat, tidak dibayar, tapi sangat melelahkan: selalu terlihat baik-baik saja, selalu memastikan orang lain nyaman, selalu mengelola bagaimana dirinya dipersepsi.

Di Indonesia, Ini Berbentuk Berbeda tapi Sama Beratnya

Konteks budaya Indonesia menambah lapisan tersendiri pada tekanan ini. Ada ekspektasi yang sangat spesifik tentang perempuan yang "ideal" — yang bekerja keras tapi tidak melupakan keluarga, yang berpendidikan tapi tidak terlalu vokal, yang cantik tapi tidak terlalu mencolok, yang berkarier tapi tetap siap menikah di usia yang dianggap "tepat".

Yang membuat ini lebih kompleks adalah bahwa sebagian besar ekspektasi itu tidak datang dari satu sumber yang jelas. Ia datang dari keluarga, dari lingkungan, dari media, dari institusi agama, dari komentar tetangga, dari algoritma yang merekomendasikan konten "tips menjadi istri yang baik" kepada perempuan muda yang belum menikah. Ia tersebar di mana-mana sehingga tidak terlihat sebagai sistem — ia hanya terasa seperti "memang begitulah adanya".

Dan di situlah konstruksi sosial bekerja paling efektif: ketika ia sudah begitu menyatu dengan realitas sehari-hari sampai tidak terlihat sebagai pilihan, tapi sebagai kebenaran.

Tekanan terberat bukan yang datang dari luar dengan keras. Tekanan terberat adalah yang sudah terasa seperti suara dari dalam — padahal asalnya dari luar.

Lalu Apa yang Dilakukan Film Ini dengan Semua Itu

Barbie tidak berakhir dengan revolusi. Ia berakhir dengan Barbie memilih untuk menjadi manusia — tidak sempurna, tidak abadi, tapi utuh. Pilihan yang terasa kecil tapi sebenarnya sangat radikal dalam konteks karakter yang seluruh eksistensinya dibangun di atas kesempurnaan yang diperformakan.

Dan itu mungkin pesan yang paling jujur dari film ini: pembebasan dari konstruksi sosial bukan tentang menemukan sistem baru yang lebih baik untuk menggantikannya. Ia tentang kemampuan untuk memilih siapa dirimu di luar semua sistem itu — bahkan ketika pilihannya tidak glamor, tidak pink, dan tidak datang dengan instruksi.

Judith Butler bilang gender adalah pertunjukan. Tapi pertunjukan tidak harus selalu mengikuti naskah yang sama. Kamu bisa memilih untuk improvisasi — perlahan, dengan biaya sosial yang nyata, tapi dengan kejujuran yang tidak bisa dibeli dengan conformity.

Yang Bisa Dibawa

Pertama, mulai perhatikan ekspektasi mana yang kamu internalisasi bukan karena kamu memilihnya, tapi karena ia sudah ada sebelum kamu sempat mempertanyakannya. Bukan untuk langsung melawannya — tapi untuk setidaknya tahu bahwa ia adalah konstruksi, bukan takdir.

Kedua, untuk siapa pun yang berinteraksi dengan anak perempuan — sebagai orang tua, kakak, guru, teman — perhatikan pesan apa yang kamu kirimkan, bukan hanya yang eksplisit tapi yang implisit. Apa yang kamu puji, apa yang kamu komentari, apa yang kamu abaikan — semua itu adalah bahan bangunan dari konstruksi yang akan mereka bawa bertahun-tahun ke depan.

Dan ketiga, percakapan tentang gender bukan hanya percakapan tentang perempuan. Ken di film itu akhirnya harus belajar membangun identitas yang tidak bergantung pada Barbie — dan itu juga perjalanan yang relevan untuk laki-laki yang tumbuh dalam sistem yang mengajarkan bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang sah.

Barbie adalah film tentang boneka. Tapi pertanyaan yang ia tinggalkan jauh lebih besar dari ukuran kotak pinknya: siapa dirimu kalau semua yang dunia minta kamu jadi — dilepas satu per satu?

Jawaban itu tidak ada di Barbieland. Tapi ia ada — dan ia milikmu untuk ditemukan.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023