Di episode Black Mirror berjudul Nosedive, ada seorang perempuan bernama Lacie yang hidupnya dikendalikan satu hal: rating sosial. Setiap interaksi — senyuman, sapaan, unggahan foto — dinilai oleh orang lain dalam skala bintang. Rating tinggi berarti akses ke apartemen bagus, penerbangan kelas satu, lingkaran pertemanan elite. Rating rendah berarti dikucilkan dari segalanya.
Lucunya, ketika pertama kali menonton episode itu, reaksi banyak orang bukan ngeri — tapi familiar. Karena kita sudah hidup di sana.
Tidak dalam bentuk angka di layar. Tapi dalam bentuk likes, followers, views, dan komentar yang secara diam-diam mengatur bagaimana kita berpakaian, berbicara, makan, bahkan bersedih.
Baudrillard dan Dunia yang Sudah Hilang

Jean Baudrillard adalah filsuf Prancis yang di tahun 1981 menulis sesuatu yang waktu itu terdengar gila: realitas sudah mati. Yang tersisa hanyalah simulacra — salinan dari sesuatu yang aslinya sudah tidak ada.
Maksudnya begini. Dulu, representasi mengikuti realitas. Foto makanan ada karena makanannya ada. Cerita tentang liburan ada karena liburannya terjadi. Tanda mengacu pada sesuatu yang nyata.
Tapi Baudrillard melihat sesuatu yang bergeser: lambat laun, representasi mulai berjalan sendiri. Orang tidak lagi memotret momen karena momennya indah — mereka menciptakan momen supaya bisa dipotret. Liburan direncanakan bukan berdasarkan apa yang ingin dirasakan, tapi berdasarkan apa yang akan terlihat bagus di foto.
Di titik ini, citra bukan lagi cermin realitas. Citra adalah realitasnya.
"Simulasi bukan lagi tentang wilayah, referensi, atau substansi. Ia adalah penciptaan model dari sesuatu yang nyata tanpa asal-usul atau kenyataan." — Jean Baudrillard
Ini Bukan Soal Pamer
Ini penting untuk dipahami dulu: masalah yang diangkat Baudrillard bukan sekadar soal orang yang suka pamer di media sosial. Itu terlalu dangkal. Masalahnya jauh lebih dalam dari itu.
Yang terjadi adalah pergeseran ontologis — pergeseran soal apa yang kita anggap nyata. Ketika seseorang menghabiskan energi lebih besar untuk mengelola citra dirinya dibanding mengembangkan dirinya yang sesungguhnya, maka yang ia percayai sebagai "diri" itu sudah bukan yang asli. Ia hidup di dalam simulasi dirinya sendiri.
Dan di sinilah Black Mirror bukan sekadar hiburan dystopia. Ia adalah dokumentasi dari sesuatu yang sedang terjadi, bukan sesuatu yang mungkin terjadi.
Di Indonesia, Ini Terasa Berbeda
Ada dimensi kultural yang membuat fenomena ini lebih kuat di Indonesia. Tekanan sosial di sini tidak hanya datang dari algoritma — ia datang dari keluarga, tetangga, lingkungan, dan standar komunitas yang sudah ada jauh sebelum Instagram lahir.
Media sosial tidak menciptakan kebutuhan validasi itu. Ia hanya memberinya panggung yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih adiktif.
Hasilnya: anak muda yang merasa perlu terlihat sukses sebelum benar-benar sukses. Yang merasa perlu terlihat bahagia di momen yang sesungguhnya menyakitkan. Yang mengukur pencapaian bukan dari apa yang ia rasakan — tapi dari berapa banyak orang yang melihat dan menyetujuinya.
Ini bukan kelemahan karakter. Ini adalah respons logis terhadap sistem yang memang dirancang untuk itu. Algoritma TikTok dan Instagram tidak memilih konten yang jujur — mereka memilih konten yang performatif. Dan kita menyesuaikan diri, tanpa sadar.
Kita tidak berbohong di media sosial. Kita hanya menampilkan versi diri yang paling mudah dicerna — dan lama-lama, kita lupa ada versi lain yang lebih asli.
Terjebak di Dalam Cermin
Kembali ke Lacie di Nosedive. Yang paling tragis dari karakternya bukan bahwa ia dibenci orang lain — tapi bahwa ia sendiri sudah tidak tahu siapa dirinya di luar rating itu. Seluruh identitasnya dibangun dari validasi eksternal, sampai ketika validasi itu runtuh, tidak ada yang tersisa.
Baudrillard menyebut kondisi ini hyperreality: titik di mana simulasi terasa lebih nyata, lebih memuaskan, dan lebih penting dari realitas itu sendiri. Dan ketika kita sudah di sana, sangat sulit untuk kembali — karena "kembali" terasa seperti kehilangan, bukan pembebasan.
Berapa banyak orang yang takut deactivate akun sosmed bukan karena mereka akan kehilangan informasi — tapi karena mereka takut tidak ada? Takut tidak terlihat, tidak dihitung, tidak eksis?
Itu bukan ketergantungan pada aplikasi. Itu ketergantungan pada simulasi diri sendiri.
Lalu Bagaimana?

Baudrillard tidak menawarkan solusi yang rapi, dan ini jujur. Karena keluar dari simulasi bukan tentang hapus Instagram dan hidup off-grid. Simulasi sudah terlalu dalam — ia ada di cara kita bicara, cara kita berpakaian, cara kita mendefinisikan sukses.
Yang bisa dilakukan adalah mulai membangun kesadaran tentang gap: jarak antara siapa yang kamu tampilkan dan siapa yang kamu rasakan di dalam. Semakin jauh jaraknya, semakin besar energi yang kamu buang untuk menjaga ilusi itu tetap hidup.
Pertanyaan yang lebih berguna bukan "Apakah ini layak diposting?" — tapi "Apakah aku melakukan ini karena aku mau, atau karena aku butuh orang lain melihatnya?"
Perbedaan itu kecil. Tapi jawabannya bisa membongkar banyak hal.
Black Mirror tidak menakut-nakuti kita dengan masa depan. Ia menunjukkan sesuatu yang kita sudah pilih — setiap hari, satu scroll pada satu waktu.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











