Bom Surabaya 2018 dan Resonansinya dalam Lagu "Peradaban" oleh Feast

Diterbtikan Pada

Bom Surabaya 2018 dan Resonansinya dalam Lagu "Peradaban" oleh Feast

Diterbtikan Pada

Tragedi bom Surabaya pada 13 Mei 2018 meninggalkan luka yang tidak mudah disembuhkan. Dalam satu hari, tiga gereja diledakkan dalam interval waktu berdekatan: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Keesokan harinya, ledakan susulan terjadi di Mapolresta Surabaya. Yang membuat dunia internasional tercengang bukan hanya skala serangannya, melainkan polanya: seluruh anggota satu keluarga terlibat sebagai pelaku bom bunuh diri, termasuk anak-anak.

Dari ruang-ruang refleksi pasca-tragedi itu, lahir salah satu lagu paling berat dalam diskografi Feast: "Peradaban".

Tragedi yang Tidak Biasa

Serangan Surabaya 2018 berbeda dari aksi terorisme sebelumnya di Indonesia bukan hanya soal target, tetapi soal struktur pelakunya. Seorang ayah, ibu yang menggendong anak balita, dan anak-anak remaja mereka bergerak bersama dalam satu operasi. Para analis menyebutnya sebagai bom bunuh diri keluarga pertama yang tercatat dalam sejarah terorisme modern.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa motif di balik serangan ini bersifat eskatologis, didorong oleh keyakinan bahwa aksi tersebut adalah jalan menuju mati syahid. Keyakinan itu tidak muncul dari ruang kosong. Ia terbentuk dari narasi yang secara sistematis merasionalisasi kekerasan melalui interpretasi sempit terhadap doktrin agama, membangun gagasan tentang "perang kosmis" antara yang dianggap benar melawan yang dianggap kafir.

Peristiwa ini memicu gelombang solidaritas lintas agama sekaligus kecemasan kolektif yang dalam tentang ke mana arah toleransi di Indonesia sedang berjalan.

"Peradaban" sebagai Respons Artistik

Feast dikenal dengan lirik-lirik yang provokatif dan penuh bobot filosofis. "Peradaban", yang masuk dalam album Beberapa Orang Memaafkan (2018), hadir bukan sebagai lagu duka biasa, melainkan sebagai kritik sosial yang dingin dan sistematis terhadap kondisi masyarakat yang melahirkan tragedi semacam itu.

Lagu ini tidak menyebut nama peristiwa secara eksplisit. Ia bekerja dengan cara yang lebih luas: memetakan gejala-gejala kerusakan peradaban yang memungkinkan kekerasan tumbuh subur.

"Tempat ibadah terbakar lagi / Nama kita diinjak lagi" bukan sekadar deskripsi kejadian. Kata "lagi" adalah kata yang paling berat dalam baris itu. Ia menandai bahwa yang terjadi bukan anomali, melainkan pengulangan dari pola yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

"Yang jadi saksi harus kuat / Tak terbutakan dunia akhirat" menyentuh satu persoalan yang sering luput dari perhatian pascakrisis: bagaimana tekanan sosial, intimidasi, dan iming-iming kepentingan sering kali membungkam mereka yang seharusnya berbicara. Feast menempatkan kesaksian sebagai tindakan moral yang aktif, bukan pasif.

Refrein "Karena peradaban takkan pernah [mati] / Walau diledakkan diancam tuk diobati" adalah paradoks yang disengaja. Peradaban tidak hancur oleh ledakan fisik. Yang paling berbahaya adalah kehancuran nilai-nilai yang berlangsung perlahan, diam-diam, jauh sebelum ada yang meledak.

Dan di bagian yang paling lantang secara nada namun paling halus secara makna: "Jangan coba atur tutur kata kami / Jangan coba atur gaya berpakaian kami" adalah pernyataan bahwa terorisme dan otoritarianisme beroperasi dengan logika yang sama: keduanya tidak toleran terhadap perbedaan, keduanya merasa berhak menentukan bagaimana orang lain harus hidup.

Seni yang Tidak Sekadar Berduka

Yang membedakan "Peradaban" dari lagu-lagu respons tragedi pada umumnya adalah keberaniannya untuk tidak berhenti di level empati. Feast tidak hanya mengajak pendengarnya untuk berduka. Mereka mengajak untuk mencermati: apa kondisi sosial yang membuat seseorang bisa sampai pada titik meledakkan dirinya di depan pintu gereja bersama anak-anaknya?

Pertanyaan itu tidak nyaman. Tapi justru ketidaknyamanan itulah yang membuat lagu ini masih relevan tujuh tahun setelah peristiwa yang melatarbelakanginya. Terorisme bukan sekadar masalah keamanan yang diselesaikan dengan penangkapan dan persidangan. Ia adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam: masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan, dan yang membiarkan narasi kebencian tumbuh tanpa perlawanan yang cukup.

"Peradaban" adalah pengingat bahwa seni punya peran di sana, bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk memastikan pertanyaan-pertanyaan yang penting tidak terkubur di bawah berita berikutnya.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023