Ada satu adegan di Attack on Titan yang sulit dilupakan. Eren kecil berdiri di balik tembok, menatap langit dengan mata yang menyala, dan berkata: "Aku akan membunuh mereka semua... dan akhirnya bebas." Saat itu, kita menyukainya. Kita merasakan energi yang sama — hasrat untuk keluar dari sesuatu yang mengurung.
Tapi cerita itu tidak berhenti di sana. Puluhan episode kemudian, Eren yang mengejar kebebasan itu justru menjadi ancaman terbesar bagi dunia dan mungkin, bagi dirinya sendiri.
Di sinilah filsuf Prancis Albert Camus masuk.
Absurditas, Apa Itu?
Camus punya satu gagasan inti yang ia sebut absurd: manusia selalu mencari makna dan kepastian, tapi dunia tidak pernah memberikan itu. Kita ingin tahu "untuk apa hidup ini?", tapi alam semesta diam saja. Kita ingin kebebasan sejati, tapi setiap pilihan selalu ada batasnya.
Yang menarik, Camus tidak bilang: "Makanya menyerahlah." Justru sebaliknya. Ia bilang manusia harus tetap hidup dan tetap memberontak meski tahu tidak ada jawaban pasti. Bukan karena ada harapan di ujung jalan — tapi karena pemberontakan itu sendiri yang memberikan makna.
"Seseorang harus membayangkan Sisifus bahagia." — Albert Camus
Sisifus, dalam mitologi Yunani, dikutuk mendorong batu besar ke atas bukit — hanya untuk melihatnya menggelinding turun lagi, selamanya. Camus berkata: bahkan dalam siklus sia-sia itu, ada kemungkinan untuk memilih. Dan pilihan itulah yang membuat manusia bebas — bukan hasilnya.
Eren dan Jebakan Kebebasan

Kembali ke Eren. Ia menghabiskan seluruh hidupnya mengejar satu hal: kebebasan bagi bangsanya, bagi dirinya. Tapi semakin ia bergerak menuju tujuan itu, semakin banyak yang hancur — termasuk orang-orang yang ia cintai.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah ironi yang Camus sudah peringatkan sejak lama: ketika manusia menjadikan satu tujuan sebagai satu-satunya makna hidup, ia mulai membenarkan apa saja demi tujuan itu. Eren tidak lagi bertanya "Apakah ini benar?" — ia hanya bertanya "Apakah ini perlu?"
Di sinilah absurditas Eren berbeda dengan yang diusulkan Camus. Camus tidak meminta manusia menyerah pada dunia yang kacau, tapi juga tidak meminta manusia memaksakan keteraturan dengan cara apa pun. Pemberontakan sejati bukan menghancurkan segalanya atas nama kebebasan — tapi tetap hidup jujur di tengah ketidakpastian.
Eren memberontak. Tapi ia memberontak melawan dunia — bukan melawan batas-batas pikirannya sendiri.
Relevansinya Buat Kita
Sekarang coba tarik ke konteks yang lebih dekat. Berapa banyak anak muda Indonesia sekarang yang hidup versi Eren versi mereka sendiri? Mengejar "financial freedom", kebebasan dari kerja kantoran, kebebasan dari ekspektasi orang tua — dengan semua energi yang ada.
Dan tidak sedikit yang berakhir burnout, kehilangan arah, atau merasa lebih kosong setelah akhirnya mencapai apa yang mereka kejar. Kenapa?
Karena yang mereka kejar bukan kebebasan — tapi pelarian. Dan pelarian tidak pernah berakhir di "bebas". Ia berakhir di tujuan baru untuk lari lagi.
Camus mengajarkan sesuatu yang lebih jujur: kebebasan bukan sesuatu yang kamu capai di suatu hari nanti. Kebebasan adalah cara kamu memilih untuk hidup hari ini, bahkan ketika dunia terasa tidak adil, tidak masuk akal, dan tidak memberikan jawaban.
Lalu Apa yang Bisa Kita Ambil?

Pertama, kenali bedanya antara tujuan dan pelarian. Tujuan tumbuh dari dalam; pelarian tumbuh dari rasa tidak nyaman. Eren tidak pernah benar-benar tahu apa yang ia inginkan setelah bebas — ia hanya tahu apa yang ingin ia hindari.
Kedua, kebebasan sejati bukan absennya hambatan. Itu tidak mungkin. Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk memilih sikap di hadapan hambatan itu.
Dan ketiga, mungkin ini yang paling penting, jangan jadikan satu tujuan sebagai satu-satunya alasan kamu hidup. Karena ketika tujuan itu goyah atau berubah, kamu tidak punya apa-apa yang tersisa.
Eren Yeager adalah karakter yang brilian justru karena ia adalah cermin yang tidak nyaman. Ia menunjukkan apa yang terjadi ketika manusia mengejar kebebasan tanpa bertanya: kebebasan untuk apa, dan dengan harga berapa?
Camus sudah menjawab itu lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Kita hanya perlu mau mendengarnya.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











