Jam 2 pagi, laptop masih nyala. Di layar terbuka 7 tab: Notion untuk planning, Canva untuk konten, Excel untuk tracking side hustle, dan Instagram yang scroll tanpa henti. Kopi sudah dingin. Besok pagi harus bangun jam 5 untuk gym, lalu kuliah, lalu kerja freelance, lalu konten malam lagi.
“Gapapa, ini namanya grind,” katanya dalam hati. “Orang sukses harus hustle.”
Tapi di tengah semua itu, muncul pertanyaan kecil yang semakin lama semakin besar: “Ini semua untuk apa sih?”
Itulah yang sedang dialami banyak anak muda Indonesia hari ini. Hustle Culture — budaya kerja keras tanpa henti yang dipuji di mana-mana — ternyata tidak selalu membawa kebahagiaan. Malah sering membuat kita kehilangan arah.
Apa Sebenarnya Hustle Culture?

Hustle Culture adalah cara hidup yang memuja produktivitas di atas segalanya. Bangun pagi-pagi, optimasi waktu, punya multiple income stream, jarang libur, dan selalu merasa “belum cukup”. Di media sosial, kita dibanjiri quote seperti “while you sleep, someone is working hard” atau video “24 jam dalam hidup CEO umur 22 tahun”.
Di Indonesia, fenomena ini semakin kuat. Anak kuliahan kerja sampingan, karyawan swasta punya bisnis online, content creator harus posting setiap hari. Semua serba cepat, serba kompetitif. Kalau tidak hustle, rasanya kamu tertinggal.
Tapi di balik semua capaian itu, banyak yang merasa hampa. Capek yang tidak kunjung hilang. Sukses yang terasa kosong.
Søren Kierkegaard dan “Hidup yang Autentik”
Søren Kierkegaard, filsuf Denmark abad ke-19 yang sering disebut bapak eksistensialisme, punya pandangan yang sangat tajam soal ini.
Menurut Kierkegaard, hidup manusia bukan tentang mengikuti aturan umum atau mengejar target luar. Hidup yang benar adalah hidup yang subjektif — kamu harus menemukan makna sendiri, dengan keberanian dan kejujuran terhadap diri sendiri.
Ia membagi tahap kehidupan manusia menjadi tiga:
Tahap Estetis: Hidup hanya untuk kesenangan dan hiburan sesaat (party, flexing, dopamine dari like).
Tahap Etis: Hidup mengikuti aturan moral dan kewajiban sosial (kuliah, kerja kantor, nikah, punya anak).
Tahap Religius (atau tahap eksistensial): Kamu berani melompat ke dalam kehidupan yang autentik, meski penuh ketidakpastian. Di sini kamu bertanggung jawab penuh atas pilihanmu dan mencari makna yang benar-benar dari dalam diri.
Kierkegaard bilang: banyak orang terjebak di tahap estetis atau etis karena takut menghadapi “kecemasan eksistensial” — rasa takut karena hidup ini sebenarnya tidak ada makna yang sudah disediakan dari luar. Makna harus kamu ciptakan sendiri.
Ketika Hustle Culture Bertemu Kierkegaard
Hustle Culture adalah jebakan tahap estetis yang dibungkus rapi dengan bahasa etis.
Kita bilang “kerja keras demi masa depan”, “demi keluarga”, “demi mimpi”. Tapi kalau ditanya lebih dalam, banyak dari kita tidak tahu makna sebenarnya di balik semua hustle itu. Kita produktif, tapi tidak autentik.
Kierkegaard pasti akan bilang: Kamu sedang lari dari diri sendiri. Kamu sibuk mengisi jadwal supaya tidak perlu menghadapi pertanyaan besar: “Siapa aku sebenarnya? Hidup ini untuk apa?”
Banyak anak muda Indonesia yang hustle habis-habisan akhirnya mengalami burnout berat. Mereka punya duit, followers, skill, tapi merasa hampa. Karena produktivitas mereka bukan berasal dari panggilan hati, melainkan dari tekanan luar: takut miskin, takut dikatai gagal, takut ketinggalan tren.
Relevansi untuk Anak Muda Indonesia

Di Indonesia, hustle culture semakin parah karena kombinasi tekanan ekonomi dan budaya media sosial.
Orang tua bilang “kerja keras”, teman bilang “side hustle”, algoritma bilang “kalau tidak posting tiap hari, kamu akan hilang”. Akhirnya kita berlari tanpa tahu tujuan sebenarnya.
Kita lihat banyak kasus: anak muda yang sukses bisnis online tapi depresi, karyawan yang naik jabatan tapi merasa hidupnya meaningless, mahasiswa yang ikut semua organisasi tapi tidak tahu mau jadi apa.
Kierkegaard mengingatkan kita: produktivitas tanpa makna subjektif hanyalah bentuk pelarian yang lebih canggih.
Hikmah yang Bisa Kita Ambil
Berhenti sejenak dan tanya diri sendiri. “Apa yang aku lakukan ini benar-benar karena aku mau, atau karena aku takut terlihat gagal?”
Makna tidak datang dari luar, tapi dari dalam. Jangan tunggu pekerjaan, uang, atau pencapaian yang memberi makna. Kamu yang harus memberi makna pada apa yang kamu lakukan.
Keberanian untuk melambat. Kadang hustle yang paling berani justru adalah berani bilang “cukup” dan memilih kualitas hidup daripada kuantitas pencapaian. Kierkegaard menyebut ini “loncatan iman” — berani memilih jalan yang autentik meski tidak populer.
Hustle Culture mengajarkan kita untuk terus bergerak. Kierkegaard mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Gerak ke mana?”
Karena pada akhirnya, hidup yang paling berharga bukan yang paling produktif, melainkan yang paling bermakna — hidup yang kamu pilih dengan sadar, bukan yang kamu jalani karena terpaksa.
Jadi lain kali kamu lagi ngegas deadline tengah malam sambil bertanya-tanya kenapa rasanya kosong, ingat saja Kierkegaard. Mungkin saatnya kamu berhenti hustle sebentar, dan mulai hidup dengan lebih jujur pada diri sendiri.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











