Pada pertengahan 1980-an, mayat-mayat ditemukan tergeletak di tempat umum di berbagai kota Indonesia. Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada proses pengadilan, tidak ada identitas pelaku yang diakui. Yang ada hanya tubuh-tubuh dengan tanda-tanda eksekusi, dibiarkan terlihat oleh publik secara sengaja. Rezim Orde Baru menyebutnya "tindakan tegas". Sejarah mencatatnya sebagai Petrus — Penembakan Misterius.
Inuyashiki karya Hiroya Oku adalah manga dan anime tentang dua orang yang mendapatkan kekuatan hampir tak terbatas dan membuat pilihan yang sepenuhnya berlawanan. Keduanya, meski terpisah oleh konteks yang sangat berbeda, berbicara tentang pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika seseorang memiliki kemampuan untuk membunuh tanpa konsekuensi?
Negara sebagai Algojo

Petrus bukan operasi yang berjalan dalam kegelapan total. Soeharto sendiri mengakuinya dalam biografinya sebagai "tindakan tegas" terhadap mereka yang dinilai telah melampaui batas kemanusiaan. Pengakuan itu penting bukan karena menunjukkan transparansi, melainkan karena mengungkap bagaimana rezim membangun narasi moral untuk membenarkan pembunuhan di luar hukum.
Mekanismenya sistematis. Aparat militer dan intelijen menyusun daftar hitam target yang dicap sebagai "preman" atau "gali" — gabungan anak liar. Tidak ada proses verifikasi yang transparan, tidak ada kesempatan membela diri. Target diburu dan dieksekusi. Mayat dibiarkan tergeletak di tempat publik sebagai pesan, sebagai apa yang rezim sebut "terapi kejut" untuk menakuti masyarakat dan calon pelaku kriminal.
Seorang pelaku, Mardiono, menggambarkan prinsip operasional yang sederhana: "berani dan ada jaminan dari komandan." Jaminan impunitas itulah yang mengubah aparat menjadi hakim, juri, dan algojo sekaligus. Sistem hukum tidak dilibatkan karena sistem hukum justru adalah hambatan, bukan alat. Negara memilih jalan pintas yang brutal, dan menyebutnya kebijakan.
Mereka yang mencoba mencari perlindungan hukum — seperti Kentus dan kawan-kawannya yang mendatangi Lembaga Bantuan Hukum — menemukan bahwa institusi yang seharusnya melindungi mereka tidak memiliki kemampuan, atau tidak memiliki keberanian, untuk berhadapan dengan negara yang sedang mengeksekusi warga negaranya sendiri.tas dan Pilihan Moral

Inuyashiki memulai dengan premis yang terasa jauh dari realitas: dua orang, Ichiro Inuyashiki dan Hiro Shishigami, secara tidak sengaja terbunuh oleh makhluk luar angkasa dan dihidupkan kembali sebagai robot super canggih dengan kekuatan yang hampir identik. Yang membuat cerita ini relevan jauh melampaui genrenya adalah apa yang Isayama lakukan dengan premis itu.
Ichiro adalah pria tua yang tidak dianggap oleh keluarganya, yang hidupnya sebelum transformasi itu terasa tidak bermakna. Mendapatkan kekuatan tidak mengubah siapa dia — ia tetap seseorang yang terbiasa diabaikan, yang tidak memiliki kepentingan untuk mendominasi. Ia memilih menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan penyakit terminal, melindungi orang lemah, dan menyelamatkan nyawa. Kekuatan baginya adalah cara menemukan nilai dirinya kembali, bukan cara membuktikan superioritas.
Hiro adalah remaja yang mendapat kekuatan yang sama, dan memilih arah yang sepenuhnya berlawanan. Ia membunuh — teman sekelas, keluarga tak bersalah, ratusan polisi — dengan dingin dan tanpa penyesalan. Ia mendeskripsikan sensasi membunuh sebagai cara merasakan bahwa ia hidup. Kekuatan baginya adalah bukti bahwa ia berada di atas hukum dan moral yang berlaku untuk orang lain.
Yang paling mengganggu dari karakter Hiro bukan kekejamannya, melainkan logikanya yang konsisten secara internal. Ia tidak gila dalam pengertian konvensional. Ia hanya menerapkan kesimpulan paling ekstrem dari premis bahwa kekuatan yang tidak terbatas dan im
Titik Temu PETRUS dan Inuyashiki

Paralel antara Petrus dan Hiro Shishigami bukan tentang kesamaan skala atau konteks, melainkan tentang kesamaan mekanisme berpikir. Aparat yang menjalankan Petrus tidak bertindak dari kegilaan atau impuls personal semata. Mereka bertindak dari keyakinan bahwa kekuasaan yang mereka miliki, yang dijamin oleh komandan dan oleh rezim, membebaskan mereka dari prosedur hukum yang normal. Mereka adalah hakim yang tidak perlu pengadilan, algojo yang tidak perlu hukuman.
Hiro Shishigami mengoperasikan logika yang sama, hanya tanpa struktur birokrasi di atasnya. Keduanya sampai pada titik yang sama: ketika impunitas dijamin, ketika tidak ada konsekuensi yang nyata, kekerasan menjadi alat yang rasional.
Yang membedakan Ichiro dari keduanya bukan kekuatan yang ia miliki, melainkan referensi moral yang tidak ia tinggalkan meskipun kekuatannya memungkinkan ia melakukannya. Ia tidak mengeksekusi penjahat meski mampu. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai hakim meski tidak ada yang bisa menghentikannya. Pilihan itu bukan kelemahan — ia adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap manusia dalam arti yang penting.
Pertanyaan yang Belum Selesai
Petrus secara resmi berakhir pada 1985. Tapi tidak ada pertanggungjawaban yang benar-benar terjadi, tidak ada proses hukum yang menyentuh mereka yang merancang dan menjalankan operasi itu. Korban-korbannya, yang sebagian besar adalah orang-orang dari lapisan paling bawah masyarakat, tidak pernah mendapat keadilan dalam pengertian yang konkret.
Yang tersisa adalah pertanyaan yang Inuyashiki ajukan dengan cara yang fiksi sering kali lebih berani dari laporan jurnalistik: apakah sistem yang ada hari ini memiliki mekanisme yang cukup untuk mencegah pengulangan logika itu? Bukan hanya dalam bentuk operasi militer rahasia, tapi dalam bentuk apapun di mana kekuasaan yang cukup besar bertemu dengan impunitas yang cukup meyakinkan.
Jawabannya tidak bergantung pada ada tidaknya orang seperti Ichiro Inuyashiki yang kebetulan memilih kebaikan. Ia bergantung pada apakah struktur akuntabilitas yang ada cukup kuat untuk bekerja bahkan ketika tidak ada yang memilih dengan sukarela untuk tunduk padanya.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











