Ada adegan di awal Fight Club yang terasa seperti satire, tapi sebenarnya terlalu dekat dengan kenyataan. Narator — yang tidak pernah diberi nama sepanjang film — duduk di apartemennya yang penuh furnitur IKEA, dan ia mendeskripsikan setiap perabot dengan cara yang persis seperti orang mendeskripsikan dirinya sendiri. Sofa sudut yang ia pilih bukan sekadar sofa. Ia adalah pernyataan tentang siapa ia, apa nilainya, ke mana hidupnya menuju.
Kemudian apartemen itu meledak. Dan yang tersisa bukan kesedihan — tapi kekosongan yang aneh, seolah ia baru sadar bahwa tidak ada yang benar-benar hilang, karena memang tidak pernah ada apa-apa di sana.
Karl Marx, yang menulis lebih dari seratus tahun sebelum film ini dibuat, sudah melihat ini datang.
Alienasi — Bukan Sekadar Istilah Ekonomi

Marx dikenal sebagai pemikir ekonomi dan politik. Tapi salah satu gagasannya yang paling dalam justru bersifat psikologis: konsep alienasi.
Awalnya, Marx bicara tentang pekerja di pabrik industri yang terasing dari hasil kerjanya sendiri. Seorang buruh yang membuat sepatu seharian tidak pernah merasakan kepuasan memiliki sepatu itu — ia hanya dapat upah, lalu upah itu digunakan untuk membeli barang dari pabrik lain yang dibuat oleh buruh lain yang juga terasing. Manusia menjadi roda dalam mesin yang tidak mereka pahami dan tidak mereka kendalikan.
Tapi alienasi Marx tidak berhenti di pabrik. Ia menjalar ke seluruh cara hidup. Ketika hubungan antar manusia mulai dimediasi oleh komoditas — ketika kamu dinilai bukan dari siapa kamu tapi dari apa yang kamu punya — maka yang teralienasi bukan hanya pekerjamu, tapi identitasmu sendiri.
"Semakin banyak yang dihasilkan manusia, semakin sedikit ia memiliki. Semakin banyak nilainya dituangkan ke dalam dunia benda, semakin miskin ia menjadi dalam kehidupan batin." — Karl Marx
Narator di Fight Club adalah gambaran sempurna dari ini. Ia punya pekerjaan, apartemen, gaya hidup yang secara objektif layak. Tapi ia tidak bisa tidur. Bukan karena ia kelelahan — tapi karena ia tidak merasakan apa pun. Ia sudah begitu jauh dari dirinya sendiri sampai ia tidak tahu siapa yang seharusnya merasa lelah itu.
Tyler Durden Sebagai Pemberontakan yang Salah Arah
Kemunculan Tyler Durden — alter ego narator yang karismatik, brutal, dan bebas — bisa dibaca sebagai respons terhadap alienasi itu. Tyler tidak peduli pada barang, tidak peduli pada status, tidak peduli pada apa yang dipikirkan orang. Ia adalah kebalikan sempurna dari semua yang membuat narator hampa.
Tapi ini yang menarik: Tyler juga bukan jawaban yang benar. Ia hanya alienasi yang dibalik. Alih-alih mendefinisikan diri lewat apa yang dimiliki, ia mendefinisikan diri lewat apa yang dihancurkan. Itu masih reaksi terhadap sistem yang sama — bukan keluarnya.
Marx akan mengatakan hal yang serupa. Pemberontakan individual — satu orang yang memilih keluar dari konsumerisme, membakar kartu kredit, hidup minimalis — tidak mengubah sistem yang menciptakan alienasi itu. Ia hanya memindahkan satu orang ke pojok lain dari ruangan yang sama.
Di Indonesia, Ini Bernama Flexing
Kita tidak perlu pergi jauh untuk menemukan versi lokal dari narator Fight Club. Scroll TikTok atau Instagram selama lima menit dan kamu akan menemukan mereka: konten "day in my life" dengan outfit branded, review gadget terbaru, pamer saldo rekening, liburan ke destinasi premium yang difoto dari sudut yang paling estetik.
Ini bukan sekadar pamer. Secara struktural, ini adalah cara orang membangun dan mengomunikasikan identitas mereka dalam sistem yang memang mengajarkan bahwa barang adalah bahasa. Bahwa kamu adalah apa yang kamu konsumsi. Bahwa nilai seseorang bisa dibaca dari merek yang ia kenakan.
Dan yang lebih dalam lagi: ada FOMO — fear of missing out — yang bekerja di bawahnya. Bukan sekadar takut ketinggalan tren. Tapi takut tidak relevan, takut tidak terlihat, takut bahwa tanpa semua penanda eksternal itu, tidak ada yang cukup menarik dari dirimu untuk diperhatikan.
FOMO bukan tentang barang. Ia tentang ketakutan bahwa tanpa barang itu, kamu tidak cukup — sebagai manusia.
Marx menyebut ini commodity fetishism: kondisi di mana hubungan sosial antar manusia digantikan oleh hubungan antar benda. Kita tidak lagi berteman karena kecocokan nilai atau pengalaman bersama — kita berteman karena kita mengonsumsi hal yang sama, pergi ke tempat yang sama, terlihat dari kelas yang sama.
Identitas yang Dipinjam

Ini yang paling mengganggu dari analisis Marx kalau ditarik ke konteks hari ini: sebagian besar identitas yang kita bangun sebenarnya bukan milik kita. Ia dipinjam dari merek, dari tren, dari tokoh yang kita ikuti, dari estetika yang sedang naik daun.
Narator Fight Club akhirnya sadar itu ketika apartemennya meledak. Tyler Durden hadir sebagai perwujudan dari pertanyaan yang selama ini ia hindari: siapa kamu kalau semua labelnya dilepas?
Pertanyaan yang sama berlaku untuk kita. Kalau domainmu dicabut, followersmu hilang, outfitmu diganti kaos polos, mobilmu diparkir jauh — apa yang tersisa? Apa yang kamu bawa ke dalam ruangan yang membuatnya worth paying attention to?
Bukan pertanyaan untuk merendahkan orang yang suka barang bagus. Barang bagus boleh dinikmati. Masalahnya bukan di barangnya — masalahnya di ketika barang itu menjadi satu-satunya argumen keberadaanmu.
Keluar dari Lingkaran
Marx tidak menawarkan solusi individual yang sederhana, dan itu jujur. Karena alienasi bukan masalah pilihan pribadi — ia adalah produk sistem yang jauh lebih besar dari satu individu.
Tapi ada hal yang bisa dimulai dari dalam. Pertama, bedakan antara konsumsi yang memperkaya dan konsumsi yang hanya mengisi kekosongan. Buku yang kamu baca karena penasaran berbeda dengan gadget yang kamu beli karena takut ketinggalan. Keduanya konsumsi, tapi energinya berbeda.
Kedua, bangun identitas dari hal-hal yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa diambil: cara berpikir, cara memperlakukan orang, nilai yang kamu pegang bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ini yang Marx sebut sebagai potensi manusia yang sesungguhnya — species-being — kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu yang bermakna, bukan sekadar mengonsumsi.
Fight Club berakhir dengan gedung-gedung yang runtuh dan layar yang menjadi hitam. Bukan solusi — tapi pertanyaan. Setelah semua itu runtuh, apa yang kamu bangun?
Marx sudah bertanya itu sejak 1844. Kita masih belum menjawabnya dengan serius.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











