Jakarta — Di balik gemerlap gedung pencakar langit dan hiruk pikuk pusat bisnis, Jakarta menyimpan paradoks yang menyakitkan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat kemiskinan di ibu kota mencapai 4,28 persen pada Maret 2025, naik dari 4,14 persen pada September 2024. Lebih dari itu, Jakarta mencatat gini ratio tertinggi di Indonesia: 0,441 — indikator yang menunjukkan jurang distribusi pendapatan paling lebar di antara seluruh provinsi.
Potret Ketimpangan Ibu Kota

Angka yang Bukan Sekadar Statistik
Gini ratio 0,441 bukan angka abstrak. Ia berarti bahwa di kota yang sama, sebagian kecil penduduk menghuni apartemen mewah di kawasan selatan, sementara sebagian besar lainnya berdesakan di permukiman padat bantaran kali — berjarak beberapa kilometer, tapi terpisah oleh jurang ekonomi yang hampir tak tertembus.
Akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan perumahan layak semakin menjadi hak eksklusif kelompok tertentu. Yang berubah bukan hanya angka kemiskinan, melainkan struktur sosial yang makin terpolarisasi.
Parasite dan Cermin yang Tidak Nyaman
Enam tahun setelah perilisannya, film Parasite karya Bong Joon-ho masih relevan — dan mungkin makin relevan. Film Korea Selatan peraih Oscar itu menggambarkan dua keluarga yang hidup di kota yang sama namun di dunia yang berbeda: keluarga Kim di semi-basement gelap dan sempit, keluarga Park di rumah modern di atas bukit.
Perbedaan elevasi tempat tinggal itu bukan kebetulan sinematik. Ia adalah metafora yang bekerja secara literal: siapa yang tinggal di atas, siapa yang di bawah, dan seberapa sulit berpindah dari satu ke yang lain.
Di Jakarta, metafora itu tidak perlu dicari jauh. Kampung padat di bantaran kali bersebelahan langsung dengan kompleks apartemen. Sekolah negeri kekurangan fasilitas berdiri tak jauh dari sekolah swasta berbiaya puluhan juta per tahun. Puskesmas penuh sesak, sementara rumah sakit VIP menawarkan kamar seperti hotel.
Interaksi yang Tidak Setara
Yang paling menohok dari Parasite bukan sekadar kontras kekayaannya, melainkan bagaimana dua kelas itu berinteraksi. Mereka hadir di ruang yang sama, tapi dalam relasi yang tidak pernah setara: sebagai majikan dan pembantu, penghuni dan penjaga, penumpang dan sopir.
Jakarta hidup dalam pola yang sama. Kelas bawah hadir di setiap sudut kota — bekerja untuk ekonomi yang sama, menghirup udara yang sama — namun hampir tidak pernah duduk di meja yang sama.
Yang Perlu Dijawab
Data BPS seharusnya menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan. Bukan karena ketimpangan ini akan segera meledak dalam satu peristiwa dramatis, tapi karena ia bekerja secara senyap: mengikis mobilitas sosial, mempertebal dinding antar kelas, dan mempersempit ruang bagi siapapun yang lahir di sisi yang salah.
Parasite tidak menawarkan solusi — ia hanya memaksa penontonnya untuk melihat. Jakarta butuh lebih dari sekadar tontonan yang bagus.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











