Ada satu kalimat di film Joker (2019) yang berat untuk dilupakan. Arthur Fleck, setelah segalanya runtuh, menulis di buku hariannya: "Aku harap kematianku lebih masuk akal dari hidupku."
Bukan kalimat seorang penjahat. Itu kalimat seseorang yang sudah lama tidak dianggap ada.
Film ini bukan tentang kejahatan. Ia tentang apa yang terjadi ketika seseorang — yang sudah mencoba mengikuti semua aturan, semua norma, semua ekspektasi — tetap tidak mendapat tempat di dunia yang katanya adil. Dan di titik itulah Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman abad ke-19 yang kontroversial, punya sesuatu yang sangat relevan untuk dikatakan.
Tuhan Sudah Mati — Tapi Bukan Seperti yang Kamu Kira
Nietzsche punya pernyataan yang paling sering disalahpahami dalam sejarah filsafat: "Tuhan sudah mati." Banyak yang membacanya sebagai pernyataan ateis murni. Tapi itu bukan maksudnya.
Yang Nietzsche maksud adalah ini: fondasi moral tradisional — sistem nilai yang selama berabad-abad mengatur apa yang benar dan salah, apa yang layak dan tidak layak — sudah kehilangan otoritasnya. Agama, institusi, negara, norma sosial — semua itu dulunya menjadi jangkar makna. Tapi modernitas menggerusnya. Orang tidak lagi percaya buta pada otoritas itu, tapi belum menemukan pengganti yang kokoh.
Hasilnya: kekosongan. Nietzsche menyebutnya nihilisme — kondisi di mana tidak ada nilai yang benar-benar terasa fundamental, tidak ada sistem yang benar-benar terasa adil, tidak ada aturan yang benar-benar terasa bermakna.
"Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita yang membunuhnya. Bagaimana kita menghibur diri kita sendiri?" — Friedrich Nietzsche
Arthur Fleck hidup persis di tengah kekosongan itu. Ia mencoba mengikuti aturan masyarakat Gotham — bekerja keras, merawat ibunya, mencoba bahagia. Tapi sistem yang seharusnya memberikan balasan atas kepatuhan itu tidak berfungsi untuk orang seperti dia. Bantuan sosial dipotong. Terapis tidak peduli. Rekan kerja menertawainya. Masyarakat mengabaikannya.
Moral tradisional bilang: jadilah baik, maka kamu akan baik-baik saja. Arthur sudah mencoba itu. Dan itu tidak bekerja.
Ketika Nilainya Sendiri yang Runtuh

Nietzsche tidak berhenti di diagnosa. Ia juga punya teori tentang apa yang terjadi selanjutnya ketika sistem moral runtuh bagi seseorang.
Ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu jatuh ke dalam nihilisme pasif — menyerah, apatis, tidak peduli pada apa pun termasuk dirinya sendiri. Kedua, dalam kasus yang lebih ekstrem, orang itu menciptakan sistem nilainya sendiri — di luar norma yang ada, di luar hukum yang ada, di luar moralitas yang pernah ia percaya.
Nietzsche menyebut potensi manusia untuk melampaui sistem yang runtuh itu sebagai Übermensch — manusia yang mampu menciptakan nilainya sendiri di tengah kekosongan. Tapi ini konsep yang sangat mudah disalahgunakan. Karena "menciptakan nilai sendiri" tanpa kompas moral apapun bisa berarti kreativitas — atau bisa berarti kehancuran.
Joker adalah versi yang kedua. Ia tidak lagi memainkan permainan masyarakat karena permainan itu sudah terbukti curang untuknya. Ia menciptakan aturannya sendiri. Dan aturan itu tidak punya ruang untuk empati, hukum, atau batas.
Joker bukan lahir dari kegilaan. Ia lahir dari kalkulasi yang sangat dingin: jika sistem tidak memberiku tempat, maka aku yang akan mendefinisikan tempatku sendiri.
Gotham Adalah Indonesia — Sebagian
Ini perlu dikatakan dengan hati-hati, tapi perlu dikatakan: ketimpangan sosial yang digambarkan Gotham bukan fiksi murni.
Indonesia punya Gini ratio yang konsisten menunjukkan kesenjangan kekayaan yang lebar. Kemarahan publik yang meledak di media sosial — terhadap pejabat korup, terhadap sistem hukum yang tidak adil, terhadap ketidaksetaraan yang kasat mata — itu bukan irasional. Itu adalah respons logis terhadap sistem yang memang tidak merata.
Yang berbahaya bukan kemarahannya. Yang berbahaya adalah ketika kemarahan itu tidak punya saluran yang sehat — tidak ada ruang untuk bicara, tidak ada mekanisme yang dipercaya, tidak ada institusi yang terasa berpihak. Di titik itu, ia mencari bentuk sendiri. Kadang dalam protes. Kadang dalam kekerasan. Kadang dalam sinisme total yang membuat orang berhenti percaya pada apa pun.
Nietzsche sudah memperingatkan ini. Ketika sistem nilai kolektif runtuh — ketika orang tidak lagi percaya bahwa bermain sesuai aturan akan membuahkan hasil — yang muncul bukan kekacauan yang tiba-tiba. Yang muncul adalah kekacauan yang sudah lama dipendam, dan akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
Apakah Joker Dibenarkan?
Ini pertanyaan yang film-nya sengaja tidak jawab. Dan itu keputusan naratif yang cerdas.
Karena jawabannya tidak hitam putih. Arthur Fleck adalah korban sistem yang nyata. Ketidakadilan yang ia alami riil. Tapi pilihan yang ia buat di ujung cerita — menjadikan kekerasan sebagai ekspresi — tetap tidak bisa dibenarkan hanya karena konteksnya menyedihkan.
Nietzsche akan setuju dengan itu. Filsuf ini tidak merayakan kehancuran — ia mendorong manusia untuk melampaui nihilisme, bukan menyerah padanya. Übermensch yang sejati tidak merusak dunia karena ia kesakitan. Ia membangun sesuatu yang baru di atas reruntuhan sistem lama.
Joker memilih untuk menjadi simbol kehancuran, bukan agen perubahan. Dan di situlah ia tragis — bukan karena ia jahat, tapi karena potensinya untuk menjadi sesuatu yang lain tidak pernah diberi ruang untuk tumbuh.
Yang Bisa Kita Bawa

Pertama, kemarahan terhadap ketidakadilan adalah hal yang sah. Jangan biarkan siapa pun meyakinkan kamu bahwa merasa marah terhadap sistem yang memang tidak adil adalah tanda kelemahan atau ketidakdewasaan.
Kedua, tapi kemarahan tanpa arah adalah bahan bakar tanpa mesin. Ia bisa membakar — tapi tidak akan membawa kamu ke mana pun. Nietzsche mendorong manusia untuk mengubah energi itu menjadi sesuatu yang konstruktif: seni, pemikiran, gerakan, perubahan nyata.
Dan ketiga, Joker mengingatkan kita bahwa sistem yang mengabaikan orang-orangnya tidak akan aman selamanya. Ketimpangan yang dibiarkan terlalu lama tidak hilang — ia hanya berubah bentuk. Kadang jadi apatis. Kadang jadi sinis. Dan kadang, jadi sesuatu yang jauh lebih keras untuk diabaikan.
Arthur Fleck memilih topeng badut sebagai identitasnya yang akhir. Tapi sebelum topeng itu, ada seorang manusia yang hanya ingin diakui. Nietzsche bilang kita yang membunuh Tuhan — dan mungkin, dalam versi yang lebih kecil setiap harinya, kita juga yang membunuh Arthur Fleck.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











