Ada momen di Money Heist yang secara naratif seharusnya tidak bekerja. Sekelompok perampok mengunci diri di dalam gedung percetakan uang nasional Spanyol, menyandera puluhan orang, dan mulai mencetak miliaran euro untuk diri mereka sendiri. Secara objektif, ini kejahatan berskala masif.
Tapi di luar gedung itu, massa berkumpul. Mereka mengenakan overall merah dan topeng Salvador Dalí. Mereka tidak menuntut pembebasan sandera — mereka meneriakkan dukungan untuk para perampok.
Dan di rumah, penonton dari Jakarta sampai Buenos Aires melakukan hal yang sama: berharap The Professor tidak tertangkap, berharap rencana itu berhasil, berharap sistem itu kalah.
Pertanyaannya bukan kenapa orang mendukung perampok. Pertanyaannya adalah: sistem seperti apa yang membuat perampokan terasa seperti keadilan?
Uang Bukan Nilai — Ia Adalah Kepercayaan

The Professor punya argumen yang ia ulang berkali-kali sepanjang seri, dan ini bukan sekadar dialog pinter dari penulis naskah — ini adalah kritik ekonomi yang sangat spesifik.
Ia berkata: bank sentral Eropa mencetak 2,4 triliun euro setelah krisis 2008 untuk menyelamatkan bank-bank besar yang kolaps akibat keserakahan mereka sendiri. Uang itu tidak dicuri dari siapa pun — ia dicetak dari udara, dari kepercayaan kolektif masyarakat pada sistem moneter. Dan hasilnya dinikmati oleh institusi yang sudah gagal, bukan oleh rakyat yang kehilangan pekerjaan dan rumah akibat kegagalan itu.
Jadi apa bedanya, kata The Professor, dengan apa yang ia lakukan? Ia juga mencetak uang dari udara. Bedanya hanya siapa yang mendapat manfaatnya.
"Kami tidak mencuri dari siapa pun. Kami mencetak uang seperti yang dilakukan Bank Sentral Eropa setiap hari — bedanya uang ini untuk rakyat." — The Professor, Money Heist
Ini bukan argumen yang sepenuhnya benar secara ekonomi. Tapi relevansinya bukan pada kebenarannya — relevansinya pada fakta bahwa jutaan orang mendengarnya dan mengangguk. Karena ia menyentuh sesuatu yang sudah lama dirasakan tapi jarang disuarakan: bahwa sistem keuangan global memang bekerja dengan aturan berbeda untuk pihak yang berbeda.
Ekonomi Politik dan Asimetri yang Nyata

Krisis keuangan 2008 adalah titik infleksi yang penting untuk dipahami. Ketika bank-bank investasi Amerika — yang mengambil risiko spekulatif luar biasa dengan uang nasabah — akhirnya kolaps, pemerintah AS menggelontorkan dana talangan senilai lebih dari 700 miliar dolar. Para eksekutif yang bertanggung jawab atas keruntuhan itu sebagian besar tidak dihukum. Beberapa bahkan menerima bonus di tahun yang sama.
Sementara itu, jutaan keluarga kehilangan rumah mereka karena tidak bisa membayar cicilan yang justru dibuat semakin tidak mungkin dilunasi oleh produk keuangan yang sama yang memperkaya para eksekutif itu.
Ekonom menyebut ini moral hazard — kondisi di mana satu pihak mengambil risiko berlebihan karena pihak lain yang akan menanggung konsekuensinya. Tapi di luar jargon akademik, yang dirasakan orang biasa jauh lebih sederhana: ada yang boleh gagal dan diselamatkan, ada yang gagal dan ditinggalkan.
Money Heist hadir lima tahun setelah krisis itu, di Spanyol yang merupakan salah satu negara yang paling keras terdampak. Tingkat pengangguran Spanyol sempat menyentuh 27 persen. Dua puluh tujuh persen. Dalam konteks itu, fiksi tentang sekelompok orang yang "balik membobol" sistem bukan hiburan yang ringan — ia adalah katarsis.
Topeng Sebagai Simbol — Dari Dalí ke Guy Fawkes
Pilihan topeng Salvador Dalí bukan keputusan estetik semata. Dalí adalah simbol surrealisme — gerakan seni yang percaya bahwa realitas yang dipaksakan oleh norma dan institusi adalah ilusi, dan bahwa yang benar-benar nyata justru sering tersembunyi di baliknya.
Dalam konteks Money Heist, topeng itu membawa pesan yang berlapis: sistem yang kamu percayai sebagai "nyata" dan "adil" adalah konstruksi. Dan orang-orang di balik topeng ini melihat konstruksi itu apa adanya.
Ini bukan pertama kali simbol visual seperti ini menjadi bahasa perlawanan. Topeng Guy Fawkes dari V for Vendetta sudah lebih dulu digunakan oleh gerakan Anonymous dan demonstran di berbagai negara. Topeng merah Money Heist muncul di demonstrasi di Chile, Irak, Lebanon, dan Indonesia.
Yang menarik bukan bahwa orang menggunakan topeng fiksi untuk protes nyata. Yang menarik adalah bahwa protes nyata membutuhkan bahasa dari fiksi untuk mengekspresikan sesuatu yang terasa terlalu besar, terlalu kompleks, atau terlalu berbahaya untuk dikatakan secara langsung.
Ketika realitas terlalu sulit untuk dihadapi secara frontal, fiksi menjadi bahasa yang lebih aman — dan seringkali, lebih jujur.
Distrust dan Glorifikasi Perlawanan di Indonesia
Fenomena ini tidak asing di Indonesia, meski bentuknya berbeda.
Ketidakpercayaan pada institusi — hukum, pemerintah, perbankan, aparat — bukan sekadar sentimen negatif yang tidak berdasar. Ia adalah akumulasi dari pengalaman nyata: korupsi yang terlihat kasat mata, hukum yang terasa tebang pilih, sistem yang bergerak lambat untuk yang kecil tapi cepat untuk yang punya kuasa.
Dalam kondisi itu, narasi tentang orang yang berhasil "mengakali sistem" — entah itu perampok fiksi di layar, atau sosok nyata yang dianggap berani melawan arus — mendapat resonansi yang jauh melampaui nilai hiburannya. Bukan karena orang Indonesia mendukung kejahatan. Tapi karena narasi itu menyentuh frustrasi yang nyata terhadap sistem yang tidak mereka percaya bekerja untuk mereka.
Ini yang perlu dipahami dari sudut sosiologi: glorifikasi perlawanan bukan gejala moralitas yang rusak. Ia adalah sinyal bahwa legitimasi institusi sedang bermasalah. Orang tidak merayakan kejahatan — mereka merayakan keberanian melawan sesuatu yang mereka rasakan sebagai ketidakadilan.
Tapi Ada yang Perlu Dipertanyakan

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan tidak terjebak dalam romantisme yang terlalu mudah.
Money Heist adalah fiksi yang sangat pandai menyembunyikan lubang dalam argumennya. The Professor terlihat brilian dan bermoral, tapi ia tetap menyandera orang yang tidak bersalah, memanipulasi timnya, dan menggunakan kekerasan sebagai alat. Serial itu membuatnya terlihat seperti Robin Hood, tapi kalau kita teliti lebih jujur — uang yang ia cetak tidak benar-benar jatuh ke rakyat miskin. Ia jatuh ke dirinya dan timnya.
Kritik terhadap sistem yang tidak adil adalah sah. Tapi solusi yang menggantikan ketidakadilan satu pihak dengan ketidakadilan pihak lain bukan perlawanan — itu hanya rotasi kekuasaan.
Ekonom dan ilmuwan politik seperti Daron Acemoglu dan James Robinson dalam karya mereka tentang institusi menunjukkan bahwa perbedaan antara negara yang makmur dan yang tidak bukan pada sumber daya alam atau kecerdasan penduduknya — tapi pada kualitas institusinya. Institusi yang inklusif, yang memberi semua pihak akses pada hukum dan peluang yang sama, adalah fondasi dari kemakmuran jangka panjang.
Artinya: jalan keluarnya bukan membakar institusi. Jalan keluarnya adalah memperbaiki institusi — proses yang jauh lebih lambat, jauh lebih membosankan, dan jauh kurang sinematik dari apa yang ditampilkan Money Heist.
Yang Bisa Dibawa
Pertama, ketidakpercayaan pada institusi adalah hal yang wajar dan sah ketika institusi itu memang gagal menjalankan fungsinya. Tapi wajar tidak berarti cukup sebagai respons. Distrust yang hanya diekspresikan sebagai sinisme pasif — menonton, mengeluh, dan tidak terlibat — tidak mengubah apa pun.
Kedua, bedakan antara kritik sistem dan romantisme perlawanan. Mendukung The Professor di layar adalah satu hal. Tapi memahami mengapa ia terasa menarik — dan apa yang itu katakan tentang kondisi institusi yang ada — adalah langkah yang jauh lebih berguna.
Dan ketiga, perubahan institusional yang nyata tidak lahir dari satu momen heroik. Ia lahir dari akumulasi orang-orang yang memilih untuk terlibat, bahkan ketika sistemnya lambat, bahkan ketika hasilnya tidak segera terlihat, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam.
Topeng merah itu menarik perhatian. Tapi yang benar-benar mengubah sistem adalah apa yang terjadi setelah topengnya dilepas.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











