“Kalau aku mati, tolong kremasi aku saja. Aku nggak mau jadi kutukan.”

Kalimat itu keluar dari mulut Yuji Itadori di episode awal, saat ia baru saja menelan jari Sukuna dan menyadari hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi. Dalam hitungan menit, ia kehilangan kakeknya, kehilangan kehidupan normal, dan dipaksa menelan tanggung jawab membunuh kutukan sambil menjadi wadah raja kutukan.
Yuji bukan pahlawan yang lahir dengan takdir besar. Ia hanya anak SMA biasa yang suka film, suka orang, dan ingin menolong. Tapi dunia jujutsu memaksanya menghadapi kematian berulang kali: teman mati di depan matanya, guru yang ia hormati hilang, dan ia sendiri harus membunuh makhluk yang dulu adalah manusia.
Di tengah semua itu, Yuji tetap bertanya: “Apa gunanya aku terus hidup?”
Ketika Hidup Memaksa Kamu Memilih
Eksistensialisme lahir dari pemikiran bahwa hidup ini absurd. Tidak ada manual book, tidak ada tujuan yang sudah ditulis di langit. Alam semesta tidak peduli padamu. Kematian pasti datang. Penderitaan tidak bisa dihindari.
Filsuf seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus bilang: makna hidup bukan diberikan, tapi diciptakan oleh pilihan-pilihan kita di tengah kekacauan itu.
Yuji Itadori adalah wujud hidup dari pemikiran itu.
Ia tidak punya kekuatan keturunan spesial seperti Gojo. Ia tidak punya dendam besar seperti Geto. Ia hanya seorang pemuda yang dipaksa berdiri di garis depan kematian setiap hari. Tapi di setiap pilihan kecilnya — melanjutkan bertarung meski takut, menyelamatkan orang meski bisa mati, tersenyum meski hatinya hancur — Yuji perlahan menciptakan maknanya sendiri.
Salah satu momen paling kuat adalah ketika ia berkata:
“Aku ingin menyelamatkan sebanyak mungkin orang… supaya saat aku mati nanti, aku bisa bilang bahwa aku hidup dengan benar.”
Bukan karena ada suara Tuhan yang memerintah. Bukan karena ada hadiah di akhir. Hanya karena ia memilih untuk percaya bahwa hidupnya bisa bermakna.
Penderitaan Bukan Musuh, Tapi Bahan Baku

Eksistensialisme tidak bilang penderitaan harus dihindari. Justru sebaliknya: penderitaan adalah tempat di mana makna lahir.
Camus pernah menulis tentang Sisyphus — pria yang dihukum selamanya mendorong batu ke atas gunung, hanya untuk batu itu menggelinding turun lagi. Camus bilang: “Kita harus bayangkan Sisyphus bahagia.” Karena di saat ia memutuskan untuk tetap mendorong batu itu meski tahu sia-sia, ia sudah memberontak terhadap absurditas.
Yuji adalah Sisyphus modern versi anime.
Ia tahu dunia jujutsu penuh kematian. Ia tahu Sukuna suatu saat akan mengambil alih tubuhnya. Ia tahu banyak temannya akan mati. Tapi ia tetap memilih untuk berjalan maju. Ia tetap makan, tertawa, marah, dan menangis seperti manusia biasa. Dari dalam penderitaan yang berat itu, ia menciptakan alasan untuk terus hidup.
Realita Anak Muda Indonesia yang Mirip Yuji
Banyak dari kita tidak melawan kutukan raksasa, tapi kita juga sedang berjuang di dunia yang terasa absurd.
Kehilangan orang tua atau saudara karena sakit atau kecelakaan. Tekanan kuliah yang berat ditambah tuntutan kerja. Lingkungan yang toxic. Masa depan yang tidak pasti. Inflasi, persaingan kerja, dan media sosial yang terus bilang “kamu harus sukses sebelum 25 tahun”.
Kita sering merasa: “Buat apa semua ini? Capek-capek, ujung-ujungnya juga mati.”
Di saat seperti itu, Jujutsu Kaisen lewat Yuji Itadori memberikan pelajaran yang sangat manusiawi:
Kamu tidak perlu punya jawaban besar kenapa kamu harus hidup. Kamu hanya perlu memilih, setiap hari, untuk memberi makna pada hari itu.
Mungkin maknanya adalah lulus kuliah supaya bisa bikin ibu tersenyum. Mungkin maknanya adalah nemenin teman yang lagi down. Atau sekadar bangun pagi dan tetap berusaha meski hatimu berat.
Yang Bisa Kita Pelajari dari Yuji

Yuji mengajarkan bahwa:
Penderitaan tidak perlu “dimasukkan akal” dulu baru bisa dihadapi. Kadang kita hanya perlu bertahan dulu, lalu pelan-pelan memberi arti pada apa yang kita alami.
Makna hidup paling kuat biasanya lahir dari pilihan kecil yang diulang-ulang, bukan dari mimpi besar yang dramatis.
Kamu boleh takut. Kamu boleh menangis. Kamu boleh ragu. Tapi selama kamu masih memilih untuk melangkah, kamu sedang menciptakan makna.
Seperti yang sering dikatakan Yuji dengan senyum lelahnya:
“Aku nggak tahu apa yang benar. Tapi… aku mau terus mencoba.”
Di dunia yang sering terasa tanpa arah, sikap itu sudah cukup heroik.
Jadi kalau suatu hari kamu merasa hidupmu terlalu berat, ingat Yuji Itadori yang memakan jari Sukuna dengan rela, meski tahu itu akan menghancurkan hidupnya.
Ia tidak memilih penderitaan. Tapi ia memilih apa yang ia lakukan di dalam penderitaan itu.
Dan dari situlah makna lahir.
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











