Membaca Konflik dan Kontradiksi Sosial Indonesia melalui Metafora Album Tashoora "Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya

Diterbtikan Pada

Membaca Konflik dan Kontradiksi Sosial Indonesia melalui Metafora Album Tashoora "Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya

Diterbtikan Pada

Indonesia adalah bangsa yang hidup dalam kontradiksi yang belum selesai. Pertumbuhan ekonomi yang dirayakan di permukaan berdampingan dengan ketimpangan yang mengakar di bawahnya. Kemajuan digital yang pesat hadir bersama warisan represi yang belum sepenuhnya dicerna. Di ruang antara dua kutub itulah band rock Tashoora menempatkan album mereka, Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya (2019) — sebuah judul yang terasa seperti teka-teki, tapi justru karena itu ia bekerja.

Kondisi yang Melahirkan Album Ini

Masyarakat Indonesia modern masih membawa bekas dari Orde Baru dengan cara yang tidak selalu kasat mata. Tiga dekade kontrol ketat terhadap kebebasan berekspresi, berserikat, dan berpendapat tidak menghilang begitu saja setelah 1998. Ia meresap ke dalam mentalitas kolektif, ke dalam cara orang berhubungan dengan otoritas, ke dalam refleks untuk patuh sebelum mempertanyakan.

Di atas warisan itu, lapisan-lapisan baru terus menumpuk. Sekitar 69 persen penduduk Indonesia masih berada dalam kelompok kelas menengah ke bawah yang rentan terhadap guncangan ekonomi mendadak, mulai dari kenaikan harga hingga kehilangan pendapatan. Kerentanan ini bukan sekadar angka statistik, ia adalah kecemasan yang hidup sehari-hari, yang membentuk cara orang membuat keputusan, cara mereka memandang masa depan, cara mereka menoleransi atau menolak ketidakadilan.

Modernisasi dan pertumbuhan ekonomi digital tidak menyelesaikan ketegangan itu. Ekonomi digital Indonesia mencapai nilai 90 miliar dolar AS pada 2024, tapi pertumbuhan itu datang bersama ancaman siber, pelanggaran data, dan kecemasan baru yang belum ada padanannya dua puluh tahun lalu. Kemajuan menambahkan kompleksitas, bukan menghapus masalah lama.

Ketidakmerataan itu juga geografis. Di wilayah perbatasan seperti Pulau Sebatik, sengketa yurisdiksi, keterbatasan infrastruktur, dan ketergantungan ekonomi pada negara tetangga mencerminkan sesuatu yang lebih besar: kegagalan negara untuk hadir secara bermakna di pinggiran-pinggiran yang paling memerlukannya.

Membaca Judul yang Tidak Sederhana

Judul Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya bukan puisi dekoratif. Ia adalah pernyataan filosofis yang merangkum kondisi yang digambarkan di atas dengan sangat presisi.

Kata "hamba" memiliki bobot yang tidak ringan dalam konteks Indonesia. Ia merujuk pada subordinasi, pada posisi seseorang yang berada di bawah kekuasaan yang lebih besar, entah itu negara, sistem ekonomi, norma sosial, atau dalam pengertian spiritual, Tuhan dan takdir. Dalam masyarakat yang dibentuk oleh decades otoritarianisme, "hamba" bukan metafora yang abstrak, ia adalah kondisi yang diinternalisasi, yang sering kali tidak disadari justru karena sudah terlalu dalam meresap.

"Jaring cahaya" adalah frasa yang menarik bukan karena kata "cahaya"-nya, melainkan karena kata "jaring"-nya. Cahaya sebagai simbol harapan dan pencerahan adalah klise yang mudah ditebak. Tapi jaring menyiratkan sesuatu yang berbeda: bahwa cahaya itu ada, tapi tidak mudah diraih, bahwa ia harus dijaring dengan usaha, bahwa ia bisa lolos di antara celah-celah, bahwa menangkapnya memerlukan kesabaran dan keterampilan. Ini bukan optimisme yang naif. Ini adalah pengakuan bahwa harapan itu nyata tapi tidak gratis.

"Bela gelapnya" adalah bagian yang paling provokatif sekaligus paling jujur dari judul ini. Membela gelap bukan menyerah padanya, dan bukan merayakannya. Ia lebih dekat pada pengakuan: bahwa kegelapan, dalam diri sendiri maupun dalam sejarah kolektif, adalah bagian dari realitas yang tidak bisa disangkal begitu saja. Untuk memahami akar ketimpangan, untuk melihat bagaimana trauma Orde Baru masih bekerja dalam cara-cara yang halus, untuk mengakui sisi gelap dari diri sendiri sebagai syarat pertama untuk berubah, semua itu memerlukan kesediaan untuk tidak buru-buru lari dari gelap menuju cahaya yang lebih nyaman.

Judul album itu, dibaca secara keseluruhan, adalah potret manusia Indonesia yang tidak disederhanakan: seseorang yang terbelenggu oleh struktur yang jauh lebih besar dari dirinya, yang terus berusaha meraih harapan yang sulit ditangkap, sambil secara bersamaan harus jujur pada kegelapan yang ia warisi dan yang ia bawa dalam dirinya sendiri.

Seni sebagai Ruang yang Tidak Bisa Ditutup

Dalam lanskap musik Indonesia yang semakin ramai, album Tashoora ini menempati posisi yang tidak banyak diisi: ia tidak menghibur dengan cara yang mudah dicerna, tapi justru karena itu ia menawarkan sesuatu yang lebih tahan lama. Ia memberi bahasa pada kondisi yang sering kali dirasakan tapi sulit dirumuskan.

Ketika kebijakan publik gagal mengakui kompleksitas, ketika wacana politik menyederhanakan yang rumit menjadi slogan, seni yang baik melakukan sebaliknya. Ia memperumit yang terlalu sederhana, memaksa yang mendengarkan untuk duduk lebih lama dengan pertanyaan yang tidak nyaman. Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya adalah contoh dari fungsi itu — sebuah album yang judulnya saja sudah merupakan argumen.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023