Godzilla lahir dari trauma, bukan imajinasi. Ketika Gojira pertama kali tayang di Jepang pada 1954, hanya sembilan tahun setelah bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, penonton Jepang tidak menonton film monster biasa. Mereka menonton sesuatu yang jauh lebih dekat dengan luka yang belum sembuh.
Dari Bikini Atol ke Layar Bioskop
Pemicu langsung film Gojira adalah insiden Lucky Dragon No. 5 pada awal 1954 — sebuah kapal penangkap ikan Jepang yang terpapar radiasi dari uji coba bom hidrogen Amerika Serikat di Atol Bikini. Awak kapal mengalami gejala keracunan radiasi, dan peristiwanya memicu kepanikan publik di Jepang yang belum sepenuhnya pulih dari trauma Perang Dunia II.
Godzilla, dalam versi aslinya, adalah personifikasi dari kekuatan nuklir yang tidak bisa dikendalikan. Kulitnya yang bersisak kasar dirancang menyerupai luka keloid para korban selamat bom atom. Napas atomnya yang membakar kota adalah ingatan yang tidak bisa dibuang. Adegan-adegan kehancuran dalam film itu bukan hiburan semata — ia adalah katarsis bagi masyarakat yang saat itu masih dibungkam oleh sensor dan rasa bersalah pascaperang, yang belum diizinkan secara terbuka membicarakan apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki.
Yang membuat Godzilla menjadi simbol yang tahan lama bukan hanya destruksinya, melainkan ambivalensinya. Ia adalah korban dari uji coba nuklir manusia yang tidak bertanggung jawab, sekaligus ancaman yang menghancurkan kota dan membunuh orang-orang tak bersalah. Dua hal itu tidak bisa dipisahkan, dan ketegangan di antara keduanya adalah inti dari mengapa karakter ini tidak pernah bisa direduksi menjadi sekadar penjahat.
Kemarahan yang Tidak Bisa Ditembak

Dalam hampir semua iterasinya, respons pertama manusia terhadap Godzilla adalah serangan militer. Dan dalam hampir semua iterasinya, serangan itu gagal, kadang malah memperparah situasi. Shin Godzilla (2016) paling eksplisit dalam mengkritik logika ini: serangan militer gabungan Jepang dan Amerika Serikat tidak menghentikan Godzilla, tapi menghasilkan kehancuran tambahan yang bisa dihindari. Birokrasi yang lamban, keputusan yang dibuat oleh komite tanpa pemahaman tentang apa yang sedang mereka hadapi, dan reflek untuk menembak sebelum memahami, semuanya digambarkan sebagai bagian dari masalah, bukan solusinya.
Godzilla Minus One (2023) mengambil posisi yang lebih eksplisit lagi: solusinya bukan senjata yang lebih besar, melainkan pemahaman yang lebih dalam dan kolaborasi yang lebih tulus. Film ini berlatar Jepang pascaperang yang kelelahan, di mana orang-orang yang sudah kehilangan segalanya harus menghadapi ancaman baru tanpa sumber daya militer yang memadai. Yang mengalahkan Godzilla bukan kekuatan, melainkan pengetahuan, kepercayaan, dan kesediaan untuk berkorban bersama.
Pesan itu bukan kebetulan. Ia adalah kritik terhadap mentalitas yang meyakini bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan kekuatan yang cukup besar, mentalitas yang sama yang menghasilkan bom atom pada 1945 dan yang terus mendorong perlombaan senjata nuklir hingga hari ini.
Monster yang Semakin Relevan
Godzilla dimulai sebagai metafora trauma nuklir Jepang yang spesifik, tapi ia telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas. Shin Godzilla mengaitkan kemunculannya dengan pembuangan limbah radioaktif ilegal. King of the Monsters (2019) menempatkannya dalam konteks eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Dalam berbagai iterasi ini, Godzilla adalah representasi dari konsekuensi yang tidak diundang dari tindakan manusia terhadap alam, konsekuensi yang tidak bisa dinegosiasi, tidak bisa disuap, dan tidak merespons ancaman militer.
Dalam konteks perubahan iklim, paralel itu tidak perlu dipaksakan. Krisis iklim adalah sesuatu yang manusia picu sendiri melalui keputusan yang dibuat selama berabad-abad, dan yang kini mulai membalas dengan kekuatan yang tidak proporsional dengan kemampuan kita untuk mengendalikannya. Respons dominan yang masih mengandalkan teknologi dan kekuatan ekonomi untuk "mengelola" krisis itu, tanpa mengubah secara mendasar hubungan manusia dengan alam, adalah versi sipil dari militer yang terus menembakkan misil ke arah Godzilla dan bingung mengapa tidak ada yang berhasil.
Tujuh puluh tahun setelah Gojira pertama kali tayang, monster itu masih berjalan. Dan pertanyaan yang ia ajukan masih belum terjawab: seberapa jauh manusia bersedia mengubah perilakunya sebelum konsekuensinya menjadi terlalu besar untuk diabaikan?
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











