Sistem Penindasan yang Terinstitusionalisasi: Dari Realita "Orang Miskin Dilarang Sukses" hingga Alegori dalam Attack on Titan

Diterbtikan Pada

Sistem Penindasan yang Terinstitusionalisasi: Dari Realita "Orang Miskin Dilarang Sukses" hingga Alegori dalam Attack on Titan

Diterbtikan Pada

"Orang miskin dilarang sukses" bukan sekadar ungkapan frustrasi. Ia adalah deskripsi yang cukup akurat tentang bagaimana sistem bekerja — bukan melalui larangan eksplisit, melainkan melalui serangkaian hambatan struktural yang secara kumulatif membuat mobilitas sosial ke atas menjadi pengecualian, bukan norma.

Attack on Titan karya Hajime Isayama, di balik premise fantasi tentang raksasa pemangsa manusia, membangun alegori yang sangat presisi tentang mekanisme penindasan itu. Dan yang membuatnya tidak mudah dilupakan adalah penolakannya untuk menyajikan solusi yang sederhana.

Sistem yang Tidak Perlu Melarang Siapapun Secara Eksplisit

Hambatan yang dihadapi oleh mereka yang lahir di lapisan bawah tidak datang dalam bentuk dekrit atau papan larangan. Ia bekerja jauh lebih efisien dari itu.

Kualitas pendidikan yang diterima seorang anak ditentukan oleh kode pos tempat ia lahir dan kemampuan finansial orang tuanya, bukan oleh kapasitas intelektualnya. Akses permodalan untuk memulai usaha mensyaratkan agunan dan riwayat kredit yang justru tidak dimiliki oleh mereka yang paling membutuhkan modal. Jaringan dan koneksi yang menentukan akses pada peluang terbentuk di lingkungan yang homogen secara kelas, sehingga mereka yang lahir di luar lingkaran itu harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai titik awal yang sama. Sistem hukum yang mahal dan birokratis lebih mudah diakses oleh mereka yang mampu membayar.

Yang membuat struktur ini begitu tangguh adalah karena ia tidak memerlukan kesengajaan dari siapapun untuk terus berjalan. Elite tidak perlu secara aktif melarang orang miskin untuk sukses. Mereka hanya perlu mempertahankan sistem yang sudah menguntungkan mereka, dan sistem itu akan bekerja sendiri. Penindasan yang paling efektif adalah penindasan yang tidak terasa seperti penindasan — yang terasa seperti keadaan alami, seperti konsekuensi logis dari pilihan dan kemampuan individu.

Marley, Eldia, dan Anatomi Kekuasaan yang Membutuhkan Musuh

Dalam Attack on Titan, Marley adalah kekuatan imperialis yang mempertahankan dominasinya bukan hanya melalui kekuatan militer, melainkan terutama melalui propaganda. Orang Eldia di Pulau Paradis dikurung di balik tembok raksasa, diisolasi dari dunia luar, dan dikonstruksikan sebagai ancaman eksistensial oleh narasi resmi Marley. Mereka adalah kambing hitam yang keberadaannya melegitimasi kekuasaan Marley di mata dunia.

Paralel dengan mekanisme penindasan di dunia nyata tidak sulit dilihat. Kelompok yang dimarjinalkan sering kali dikonstruksikan sebagai masalah yang perlu dikelola, bukan sebagai korban dari sistem yang perlu dibenahi. Kemiskinan dibingkai sebagai konsekuensi dari kemalasan individual, bukan sebagai produk dari struktur yang tidak adil. Narasi ini bukan kebetulan — ia adalah mekanisme yang melindungi sistem dari pertanyaan yang lebih fundamental tentang bagaimana distribusi kekuasaan dan sumber daya bekerja.

Yang paling menarik dari konstruksi Isayama adalah bagaimana ia menunjukkan bahwa Marley sendiri pernah menjadi Eldia — pernah menjadi yang tertindas, sebelum berhasil membalikkan posisi. Kenyataan itu tidak membuat Marley membangun sistem yang lebih adil. Sebaliknya, mereka mereplikasi struktur penindasan yang sama, hanya dengan mengganti siapa yang berada di posisi atas dan bawah.Siklus Balas Dendam dan Keterikatan pada Sistem

Ketika yang Tertindas Mendapatkan Kekuatan

Inilah bagian Attack on Titan yang paling tidak nyaman, dan sekaligus paling penting: apa yang terjadi ketika kelompok yang selama ini tertindas akhirnya memperoleh kekuatan yang cukup untuk membalas.

Eren Yeager, protagonis yang sepanjang serial menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan, akhirnya memilih jalan yang disebut "The Rumbling" — menggunakan kekuatan Titan Kolosal untuk menghancurkan seluruh daratan di luar Pulau Paradis. Ia tidak meruntuhkan sistem yang menindas. Ia menggunakannya dengan skala yang lebih besar dan lebih mematikan.

Ini bukan plot twist yang dibuat untuk mengejutkan pembaca. Ia adalah argumentasi naratif yang dingin dan konsisten: bahwa perlawanan yang hanya bertujuan membalikkan posisi tanpa menghancurkan struktur yang memungkinkan penindasan itu terjadi tidak menghasilkan kebebasan. Ia hanya menghasilkan penindas baru dengan narasi penderitaan yang berbeda.

Di dunia nyata, versi lebih kecil dari siklus ini tidak sulit ditemukan. Gerakan yang lahir dari penindasan, begitu mendapatkan akses pada kekuasaan, kadang mereplikasi mekanisme yang sama yang dulu mereka lawan. Bukan karena mereka munafik, melainkan karena mereka tidak pernah mempertanyakan strukturnya, hanya posisinya.

Yang Perlu Diruntuhkan

Baik dalam realitas sosial maupun dalam dunia fiksi Paradis, pertanyaan yang paling penting bukan siapa yang seharusnya berkuasa, melainkan sistem macam apa yang memungkinkan sebagian orang menggunakan kekuasaan untuk memastikan kelompok lain tetap tidak berdaya.

Selama sistem pendidikan yang timpang, akses permodalan yang diskriminatif, jaringan sosial yang tertutup, dan hukum yang bisa dibeli tetap berjalan sebagai fitur bukan bug dari struktur yang ada, ungkapan "orang miskin dilarang sukses" akan terus akurat — bukan sebagai hiperbola, melainkan sebagai laporan situasi.

Attack on Titan tidak menawarkan solusi. Tapi dengan memperlihatkan konsekuensi paling ekstrem dari siklus yang tidak pernah mempertanyakan sistemnya sendiri, ia melakukan sesuatu yang lebih berguna: memaksa pembacanya untuk melihat bahwa pertanyaan tentang siapa yang berkuasa tidak cukup, selama pertanyaan tentang bagaimana struktur kekuasaan itu bekerja tidak pernah dijawab.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023