Jakarta — Squid Game bukan sekadar serial thriller tentang permainan mematikan. Sejak tayang perdana pada 2021 dan kini berlanjut ke musim kedua, serial Korea Selatan karya Hwang Dong-hyuk itu terus diperbincangkan — bukan hanya karena tegangnya, tapi karena seberapa akurat ia memotret sistem ekonomi yang timpang.
Permainan yang Sudah Ada Sebelum Serial Ini
Premis Squid Game sederhana: orang-orang yang terlilit utang dan terjepit kemiskinan struktural rela mempertaruhkan nyawa demi hadiah uang besar. Mereka tidak punya pilihan lain — atau lebih tepatnya, pilihan yang ada tidak cukup baik untuk ditolak.
Inilah yang membuat serial ini tidak terasa seperti fiksi distopia. Ia terasa seperti perbesaran dari sesuatu yang sudah berjalan: sistem di mana mayoritas berjuang keras untuk bertahan, sementara segelintir orang di puncak menikmati kekayaan yang tidak akan pernah habis dalam tujuh generasi.
Ketika Nyawa Punya Harga

Salah satu elemen paling mengganggu dalam Squid Game adalah celengan raksasa yang terisi setiap kali seorang peserta mati. Setiap kematian menambah nominal. Setiap nyawa punya angka.
Ini bukan metafora yang berlebihan. Dalam dunia kerja nyata, pekerja sering kali lebih mudah dikalkulasi sebagai biaya operasional daripada dilihat sebagai manusia. PHK massal diumumkan bersamaan dengan laporan laba yang meningkat. Kesenjangan antara gaji CEO dan pekerja paling bawah di perusahaan yang sama terus melebar — di beberapa korporasi besar, rasionya sudah melampaui angka ratusan kali lipat.
Para VIP dan Jarak yang Tidak Kasat Mata
Yang paling telak dalam serial ini bukan adegan kekerasan fisiknya, melainkan adegan para VIP — kelompok elite anonim bermasker — yang menonton permainan sambil bertaruh dan bersulang. Mereka tidak kenal para peserta. Mereka tidak perlu kenal.
Jarak itulah yang membuat sistem berjalan. Ketika penderitaan cukup jauh dan cukup abstrak, ia tidak lagi terasa seperti tanggung jawab siapapun. Ini berlaku di banyak rantai ekonomi global: konsumen di negara maju membeli produk murah tanpa perlu tahu kondisi pabrik di mana ia dibuat, investor menikmati dividen tanpa perlu hadir di lantai produksi.
Ketidakpedulian Kaum Elite
Yang paling mengganggu dari narasi "Squid Game" adalah penggambaran ketidakpedulian total kaum elite terhadap penderitaan orang biasa. Para VIP menonton permainan mematikan sambil bertaruh, tertawa, dan bersulang sampanye - completely detached dari kemanusiaan para peserta.
Ini adalah metafora yang kuat untuk sikap acuh tak acuh kalangan atas terhadap penderitaan kelas bawah dalam realitas. Orang "dari kelas ekonomi terdesak menjadi korban dari sistem yang tidak adil, sementara kalangan elite terus menikmati kenyamanan di atas penderitaan mereka."
Kita melihat ini dalam berbagai bentuk: perusahaan yang melakukan PHK massal untuk meningkatkan nilai saham, pemerintah yang memotong program sosial sambil memberikan tax break untuk korporasi besar, atau industri yang mengeksploitasi pekerja di negara berkembang untuk produk murah di negara maju.
Ilusi Pilihan dan Harapan Palsu

"Squid Game" juga mengkritik ilusi pilihan dalam sistem kapitalis. Para peserta "memilih" untuk ikut permainan, namun pilihan ini dibuat dalam kondisi desperasi ekonomi yang tidak memberikan alternatif nyata. Ini mencerminkan bagaimana "kebebasan memilih" dalam ekonomi pasar sering kali adalah pilihan semu bagi mereka yang tidak memiliki modal.
Hadiah besar yang dijanjikan dalam permainan adalah metafora untuk "American Dream" atau impian mobilitas sosial yang dijual sistem kapitalis. Namun seperti dalam serial tersebut, hanya satu dari ratusan yang akan menang - dan bahkan pemenang harus kehilangan kemanusiaannya dalam prosesnya.
Relevansi dengan Kondisi Global
"Squid Game" bukanlah kritik terhadap satu negara atau sistem tertentu, melainkan cerminan kondisi global di mana ketimpangan ekonomi telah mencapai level yang berbahaya. Pandemi COVID-19 semakin memperparah situasi ini, di mana miliaran orang kehilangan pekerjaan sementara miliarder menggandakan kekayaan mereka.
Serial ini memaksa kita untuk bertanya: Seberapa jauh kita dari dystopia yang digambarkan? Ketika orang rela mendonorkan organ untuk membayar utang, ketika pekerja terpaksa bekerja dalam kondisi berbahaya demi upah minimal, ketika kesehatan dan pendidikan menjadi privilese bukan hak - bukankah kita sudah hidup dalam versi soft dari "Squid Game"?
Panggilan untuk Perubahan

"Squid Game" seharusnya menjadi wake-up call tentang bahaya ketimpangan ekstrem. Ketika kesenjangan ekonomi menjadi terlalu lebar, ia tidak hanya menciptakan penderitaan massal tetapi juga mengancam stabilitas sosial dan demokrasi itu sendiri.
Diperlukan perubahan sistemik: pajak progresif yang adil, regulasi yang melindungi pekerja, jaring pengaman sosial yang kuat, dan yang terpenting - perubahan nilai dari masyarakat yang mengukur segalanya dengan uang menjadi masyarakat yang menghargai martabat manusia.
Serial ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap statistik kemiskinan ada manusia dengan harapan, impian, dan keluarga. Mereka bukan sekadar "pemain" dalam permainan ekonomi global, melainkan individu yang berhak atas kehidupan yang bermartabat. Pertanyaannya adalah: Apakah kita akan terus menjadi penonton pasif, atau mulai mengubah aturan permainan?
Kamu Pinter Nulis Berita?
Yuk jadi bagian dari pergerakan ini dengan kontribusi suara kamu
Kirim Artikel











