Tragedi Indonesia dan Refleksi Kritis dalam Album 'Beberapa Orang Memaafkan' oleh Feast

Diterbtikan Pada

Tragedi Indonesia dan Refleksi Kritis dalam Album 'Beberapa Orang Memaafkan' oleh Feast

Diterbtikan Pada

Di antara band-band Indonesia yang lahir dari kampus dan tumbuh di era media sosial, Feast menempati posisi yang tidak biasa. Mereka bukan hanya membuat musik yang enak didengar — mereka membuat musik yang membuat pendengarnya tidak nyaman, dalam artian yang produktif. Dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, cara mereka membaca realitas sosial terbawa langsung ke dalam lirik-lirik yang padat, penuh referensi, dan tidak takut mengambil posisi.

Album Beberapa Orang Memaafkan yang dirilis pada 21 September 2018 adalah puncak paling jelas dari pendekatan itu. Enam lagu, masing-masing berakar pada peristiwa nyata yang mengguncang Indonesia, disusun menjadi satu pernyataan kolektif tentang bangsa yang sedang diuji dari berbagai arah sekaligus.



Oke paham, ini versi yang diperbaiki — struktur rapi, isi dikembangkan, bukan sekadar dipindah-pindah.

Jakarta — Di antara band-band Indonesia yang lahir dari kampus dan tumbuh di era media sosial, Feast menempati posisi yang tidak biasa. Mereka bukan hanya membuat musik yang enak didengar — mereka membuat musik yang membuat pendengarnya tidak nyaman, dalam artian yang produktif. Dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, cara mereka membaca realitas sosial terbawa langsung ke dalam lirik-lirik yang padat, penuh referensi, dan tidak takut mengambil posisi.

Album Beberapa Orang Memaafkan yang dirilis pada 21 September 2018 adalah puncak paling jelas dari pendekatan itu. Enam lagu, masing-masing berakar pada peristiwa nyata yang mengguncang Indonesia, disusun menjadi satu pernyataan kolektif tentang bangsa yang sedang diuji dari berbagai arah sekaligus.

Dari Aktivisme ke Musik, atau Keduanya Sekaligus

Feast bukan band yang kemudian menjadi aktivis. Mereka aktivis yang kebetulan juga membuat musik — atau lebih tepatnya, yang menemukan bahwa musik adalah cara paling efektif untuk menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan.

Baskara Putra sebagai vokalis, bersama Adrianus Aristo Haryo, Adnan Satyanugraha Putra, Dicky Renanda Putra, dan Fadli Fikriawan Wibowo, sudah terlibat dalam advokasi isu sosial sebelum nama Feast dikenal luas. Singel perdana mereka, "Camkan" (2014), langsung mengambil tema kebebasan beragama di Indonesia — bukan topik yang dipilih band yang sedang ingin cepat populer. Ini adalah sinyal awal tentang prioritas mereka: relevansi lebih penting dari palatabilitas.

Latar belakang FISIP UI membentuk cara pandang anggota Feast secara struktural. Mereka tidak hanya melihat peristiwa sebagai kejadian individual, melainkan sebagai gejala dari sistem yang lebih besar. Dan itu yang membedakan lirik-lirik mereka dari kebanyakan musik protes yang cenderung berhenti di level emosi: Feast mencoba memetakan sebab, bukan hanya meratapi akibat.

Album yang Lahir dari Luka Kolektif

Feast menyebut Beberapa Orang Memaafkan sebagai manifesto dari "Earth-02" — representasi metaforis dari Indonesia yang penuh masalah namun masih menyimpan harapan, karena beberapa orang masih mau memaafkan dan terus berjuang.

Konsep itu bukan romantisasi. Ia adalah posisi yang sadar: mengakui bahwa kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, sekaligus menolak untuk menyerah pada pesimisme total. Album ini hidup di ruang antara kemarahan dan harapan, dan itu yang membuatnya tidak terasa seperti propaganda maupun ratapan.

Setiap lagu dalam album ini punya akar yang konkret. "Peradaban" adalah respons langsung terhadap Bom Surabaya 2018, yang tidak hanya menghancurkan secara fisik tetapi juga memaksa Indonesia menghadapi pertanyaan tentang bagaimana kekerasan atas nama agama bisa tumbuh di tengah masyarakat yang mengklaim dirinya toleran. Lagu ini kemudian menjadi semacam mars tidak resmi dalam berbagai aksi demonstrasi — sebuah ironi yang menarik, mengingat lagunya sendiri tidak menyerukan perlawanan dalam pengertian konvensional, melainkan mengajak refleksi.

"Berita Kehilangan", yang menampilkan Rayssa Dynta, berangkat dari kisah seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat pembunuhan pada 2011, dan surat seorang ibu kepada anak yang menjadi korban pemerkosaan. Video musiknya mengambil sudut pandang yang tidak lazim: perspektif orang yang sudah berada di dalam kubur, menyaksikan para pelayat dari bawah. Pilihan sinematik itu bukan sekadar gimmick — ia memaksa penonton untuk berdiam di dalam kepedihan, bukan sekadar menyaksikannya dari luar.

"Padi Milik Rakyat" mengkritik ketimpangan ekonomi dan perampasan hak atas sumber daya alam, dengan metafora yang memilih simbol paling dekat dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil. "Apa Kata Bapak", yang menampilkan Sir Dandy, adalah sindiran terhadap para pemimpin yang gagal memenuhi tanggung jawabnya — disampaikan dalam register yang lebih satirikal, berbeda dari berat yang menyelimuti lagu-lagu lain di album ini.

Musik sebagai Cara Mengolah Trauma

Yang menarik dari pendekatan Feast bukan hanya apa yang mereka kritik, tetapi bagaimana mereka memposisikan musik sebagai medium pengolahan trauma kolektif. Indonesia pada 2018 dilanda banyak peristiwa dalam waktu berdekatan: terorisme, kekerasan seksual yang tidak kunjung mendapat keadilan, dan korupsi yang terus berlangsung tanpa henti. Dalam kondisi itu, ada kecenderungan masyarakat untuk mati rasa — terlalu banyak yang harus dirasakan, terlalu sedikit yang berubah.

Feast menolak mati rasa itu sebagai respons yang memadai. Mereka mengubah kemarahan dan kesedihan menjadi sesuatu yang bisa didengarkan berulang kali, dibawa ke demonstrasi, dikirim lewat pesan ke teman-teman, dan dijadikan latar belakang ketika seseorang sedang mencoba memahami apa yang sedang terjadi dengan negaranya.

Baskara Putra pernah menyatakan, "Kalau kita bisa mengamplifikasi hal itu, kenapa tidak bareng-bareng, toh ini berbuat demi kebaikan." Kalimat itu sederhana, tapi menangkap dengan tepat mengapa album ini terasa berbeda dari kebanyakan musik bertema sosial: ia tidak menempatkan Feast sebagai pahlawan yang bersuara untuk yang lain, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang sedang mencoba berjalan bersama melewati kegelapan.

Dalam lanskap musik Indonesia yang semakin ramai namun semakin dangkal secara tematik, Beberapa Orang Memaafkan berdiri sebagai pengingat bahwa musik bisa melakukan lebih dari menghibur. Ia bisa menjadi cara sebuah generasi mendokumentasikan dirinya sendiri — luka-lukanya, kemarahannya, dan harapan kecil yang masih dijaganya meski segalanya terasa berat.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023