Upaya Memalsukan Ijazah dalam Film Parasite, Kritik Tajam terhadap Kesenjangan Pendidikan dan Peluang Kerja

Diterbtikan Pada

Upaya Memalsukan Ijazah dalam Film Parasite, Kritik Tajam terhadap Kesenjangan Pendidikan dan Peluang Kerja

Diterbtikan Pada

Ki-woo bisa berbahasa Inggris. Ia cerdas, mampu mengajar, dan punya referensi dari orang yang dipercaya. Tapi semua itu tidak cukup. Yang ia tidak punya adalah selembar kertas dari universitas yang namanya dikenal. Maka ia memalsukan kertas itu.

Parasite (2019) karya Bong Joon-ho menggunakan momen itu bukan sebagai titik moral tentang kejujuran, melainkan sebagai diagnosis tentang sistem yang menjadikan pemalsuan sebagai respons yang masuk akal.

Sendok Emas dan Sendok Kotor



Korea Selatan memiliki istilah yang cukup telak untuk menggambarkan ketimpangan kelasnya: gold spoon untuk mereka yang lahir dari keluarga kaya, dirt spoon untuk yang tidak. Survei 2019 menunjukkan lebih dari 85 persen responden Korea Selatan percaya bahwa untuk menjadi sukses, seseorang perlu berasal dari keluarga kaya. Bukan kerja keras, bukan kemampuan — melainkan dari mana seseorang dilahirkan.



Keluarga Kim dalam Parasite adalah representasi dari kelompok sendok kotor yang paling konkret: tinggal di semi-basement lembap, bertahan dengan pekerjaan serabutan melipat kotak pizza, tidak memiliki banyak pilihan tentang masa depan. Ki-woo, anak sulungnya, cukup pintar untuk tahu bahwa sistem rekrutmen kerja di sekitarnya menggunakan gelar universitas bukan sebagai proxy kemampuan, melainkan sebagai filter kelas sosial.



Keluarga Park, yang menjadi majikan mereka, digambarkan bukan sebagai antagonis yang jahat. Mereka "polos" — tidak menyadari bagaimana kelas mereka bekerja, tidak perlu menyadarinya. Ketidaktahuan itu sendiri adalah privilege: mereka tidak perlu memikirkan struktur yang menguntungkan mereka.



Pemalsuan sebagai Kritik, Bukan Hanya Kejahatan



Yang Bong Joon-ho lakukan dengan karakter Ki-woo adalah memaksa penonton untuk duduk dengan ketidaknyamanan bahwa tindakan tidak etis itu lahir dari situasi yang sangat logis. Ki-woo tidak memalsukan ijazah karena malas belajar atau karena ia pada dasarnya tidak jujur. Ia melakukannya karena ia tahu bahwa tanpa cap institusional yang benar, kemampuannya tidak akan pernah dievaluasi secara adil.

Ini adalah kritik terhadap sistem meritokrasi yang mengklaim menilai kemampuan, tapi dalam praktiknya menilai sinyal kelas. Gelar dari universitas ternama bukan hanya sertifikasi kompetensi — ia adalah penanda bahwa seseorang berasal dari lingkungan yang mampu membiayai akses ke sana. Ketika filter itu bekerja sebagai gate-keeper utama, orang-orang yang kompeten tapi tidak memiliki akses finansial menghadapi pilihan yang sempit: terima posisi yang tidak sesuai kemampuan, atau cari cara lain masuk ke dalam sistem.

Ayah Ki-woo, Ki-taek, mengagumi kemampuan anaknya menipu. Detail kecil itu disampaikan tanpa drama, tapi maknanya berat: dalam keluarga yang cukup lama hidup dalam tekanan struktural, kecerdikan untuk bertahan — apapun bentuknya — lebih dihargai dari kepatuhan pada aturan yang tidak pernah bekerja untuk mereka.

Pemalsuan sebagai Kritik, Bukan Hanya Kejahatan

Yang Bong Joon-ho lakukan dengan karakter Ki-woo adalah memaksa penonton untuk duduk dengan ketidaknyamanan bahwa tindakan tidak etis itu lahir dari situasi yang sangat logis. Ki-woo tidak memalsukan ijazah karena malas belajar atau karena ia pada dasarnya tidak jujur. Ia melakukannya karena ia tahu bahwa tanpa cap institusional yang benar, kemampuannya tidak akan pernah dievaluasi secara adil.

Ini adalah kritik terhadap sistem meritokrasi yang mengklaim menilai kemampuan, tapi dalam praktiknya menilai sinyal kelas. Gelar dari universitas ternama bukan hanya sertifikasi kompetensi — ia adalah penanda bahwa seseorang berasal dari lingkungan yang mampu membiayai akses ke sana. Ketika filter itu bekerja sebagai gate-keeper utama, orang-orang yang kompeten tapi tidak memiliki akses finansial menghadapi pilihan yang sempit: terima posisi yang tidak sesuai kemampuan, atau cari cara lain masuk ke dalam sistem.

Ayah Ki-woo, Ki-taek, mengagumi kemampuan anaknya menipu. Detail kecil itu disampaikan tanpa drama, tapi maknanya berat: dalam keluarga yang cukup lama hidup dalam tekanan struktural, kecerdikan untuk bertahan — apapun bentuknya — lebih dihargai dari kepatuhan pada aturan yang tidak pernah bekerja untuk mereka.

Parasit yang Saling Membutuhkan

Judul Parasite bekerja dalam dua arah. Keluarga Kim menjadi parasit bagi keluarga Park — menyusup satu per satu ke dalam rumah tangga mereka, hidup dari gaji yang dibayar majikan kaya. Tapi keluarga Park juga parasit dalam pengertian yang berbeda: mereka mengandalkan sepenuhnya tenaga kerja murah dari kelas bawah untuk menjalankan kehidupan sehari-hari mereka, tanpa pernah benar-benar melihat manusia di balik fungsi-fungsi itu.

Hubungan parasitik ini bukan hubungan yang dipilih secara bebas oleh kedua pihak. Ia adalah produk dari struktur yang menempatkan keduanya dalam posisi yang saling bergantung tapi tidak setara. Dan dalam struktur itulah pemalsuan ijazah masuk akal — bukan sebagai kemenangan moral, melainkan sebagai satu-satunya pintu yang tersedia.

Konflik yang paling menyakitkan dalam film ini bukan antara keluarga Kim dan keluarga Park. Ia antara keluarga Kim dan Moon-gwang, pembantu lama yang ternyata menyembunyikan suaminya di bunker bawah rumah Park. Dua keluarga dari kelas yang sama, saling menjatuhkan karena memperebutkan akses ke satu sumber kehidupan yang sama. Solidaritas antar kelas bawah, dalam kondisi kelangkaan seperti ini, adalah kemewahan yang sulit dipertahankan.

Relevansi yang Tidak Perlu Dicari Jauh

Indonesia tidak perlu bekerja keras untuk menemukan relevansinya dengan Parasite. Pemalsuan ijazah bukan fenomena asing di sini. Tekanan untuk memiliki gelar sebagai tiket masuk ke pasar kerja formal bekerja dengan logika yang sama. Kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah yang bisa diakses oleh yang mampu dan yang tidak menciptakan ketimpangan kompetensi yang kemudian diatribusikan pada individu, bukan pada struktur.

Parasite tidak menawarkan solusi dan tidak berpura-pura memilikinya. Yang ia lakukan adalah memperlihatkan dengan sangat jernih bagaimana sistem yang mengklaim meritokratis bisa secara sistematis menghasilkan hasil yang tidak meritokratis — dan bagaimana orang-orang yang terjebak di dalamnya membuat keputusan yang masuk akal dalam kondisi yang tidak adil.

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Postingan Lainnya

Marcus Aurelius Antoninus (121–180 M), Kaisar Romawi terakhir dari Five Good Emperors dan penganut S...

20 Agu 2025

"Laut Bercerita" berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era 1990-an yang sangat merindukan Indon...

17 Agu 2025

Peristiwa di Pati dapat dipandang sebagai gema kecil dari semangat menentang kebijakan ekonomi yang...

13 Agu 2025

Pengesahan Revisi Undang-Undang TNI oleh DPR RI pada tahun 2025 menuai kontroversi luas. Kebijakan y...

22 Agu 2024

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) secara resmi bubar pada 31 Desember 1799, ditenggelamkan ole...

19 Feb 2024

Film On the Movement of the Earth (2023) sutradara Bartosz Kruhlik bukan sekadar drama historis, mel...

13 Okt 2023